Breaking News
Loading...
Saturday, 28 April 2012

Info Post
Janji adalah kata-kata yang wajib diperjuangkan. Dan,
menurut si Burung Merak, WS Rendra, perjuangan adalah
pelaksanaan kata-kata. Pelaksanaan janji.

Si BeYe jelas cuma pengumbar impian. Tidak ada yang
dia perjuangkan ketika berkata akan menjadi presiden
pertama yang menyamar sebagai sopir truk untuk memergoki
pungutan liar di Pantura. Juga, tidak ada tanda-tanda
Si BeYe mau mempertanggungjawabkan harga kebutuhan pokok
yang tetap melonjak kendati rencana menaikkan harga
minyak kini tinggal pepesan kosong.

Lalu, untuk apa kita menaruh kepercayaan pada orang yang
kebanyakan bicara tapi bingung bekerja itu?

Boleh saja Si BeYe beralasan bingung karena bisingnya
masukan dari staf-staf khusus presiden yang jumlahnya
belasan mulut itu - belum lagi ditambah tawaran dari
partai-partai koalisi. Yang pasti, selain memboroskan uang
rakyat, lembaga Staf Khusus telah menghidupkan kembali
lembaga Aspri (asisten pribadi) di awal era Soeharto.
Begitu juga dengan Dewan Pertimbangan Presiden, yang hanya
mengganti papan nama dari "Dewan Pertimbangan Agung" (DPA)
yang sudah dihapus dari UUD'45.

Silakan kalau Si BeYe mau minta maaf atas pelanggaran HAM
masa lalu. Keluar dari mulutnya sendiri pun kata maaf itu
patut diragukan ketulusannya, apalagi ini cuma keluar dari
mulut anggota wantimpres.

Yang logis saja, bagaimana bisa Si BeYe minta maaf untuk
korban pelanggaran HAM masa lalu sedangkan untuk korban yang
masa kini (TKI, lumpur Bakrie dll) dia tidak berbuat
sebagaimana mestinya. Taruhlah maaf itu cuma dikhususkan
untuk yang masa lalu, sebelum kepresidenannya, tetap saja lucu
kenapa baru diwacanakan sekarang menjelang jabatannya tamat,
dan bukan ketika dia baru menjabat. Selain sangat terlambat,
juga tidak ada jaminan dia berani minta maaf untuk kasus
Kudatuli dan Semanggi.

Semoga kita tetap sehat lahir-batin untuk bisa percaya
begitu saja kepada orang yang telah dibaptis Forum Lintas
Agama sebagai tukang bohong.

Katakan "TIDAK" untuk Si BeYe, dan mari kita laksanakan.

-

http://www.youtube.com/watch?v=hstgaQRe0-0

pak soeharto (mengundurkan diri)
digantikan (bapak beje habibie)
beje habibie (tak terpilih lagi)
digantikan (bapak gus dur)
bapak gus dur (tak terpilih lagi)
digantikan (ibu megawati)
megawati (tak terpilih lagi)
digantikan
kurakura ninja..!


--- "ASAHAN" <a.alham1938@...> wrote:

> Maaf adalah sebuah kata
> Dari kata berlahiran segumpal janji
> Segumpal janji adalah sekedar kata
> Saudaraku sependeritaan
> Kita berpisah tak dalam satu perahu
> Karna tahayul dan mimpi yang tak sama
> ASAHAN.
>
>
> ----- Original Message -----
> From: arif.harsana@...
>
> > http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f98c115c6c91/sby-bersedia-minta-maaf
> > Kamis, 26 April 2012
> >
> > SBY Bersedia Minta Maaf
> >
> > "Akan dibentuk juga Komite Khusus untuk menyelesaikan kasus
> > pelanggaran HAM berat.
> >
> >
> > Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Albert Hasibuan mengatakan
> > Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersedia meminta maaf kepada
> > para korban pelanggaran HAM berat. Albert mengaku ditugaskan
> > presiden untuk menyiapkan langkah-langkah terkait penuntasan
> > kasus pelanggaran HAM berat itu.
> >
> > Sebagai tindak lanjut, Albert telah mengadakan pertemuan
> > setidaknya lima kali dengan para korban pelanggaran HAM berat
> > yang diadvokasi oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak
> > Kekerasan (Kontras). Sejumlah peristiwa terkait pelanggaran HAM
> > berat misalnya tragedi pembunuhan massal 1965 - 1966, Tanjung
> > Priok, Talang Sari dan kasus Semanggi.
> >
> > Serangkaian pertemuan dengan para korban dan keluarga korban itu
> > bermaksud untuk mencari masukan terhadap penyelesaian kasus
> > pelanggaran HAM berat. Sejumlah hal yang turut dibahas adalah
> > pemenuhan hak para korban. Albert menyebut beberapa hak para
> > korban itu di antaranya kompensasi, restitusi dan rehabilitasi.
> >
> > Sebagaimana janji Presiden untuk menyelesaikan masalah ini, Albert
> > melanjutkan, Wantimpres akan merancang konsep untuk mengurangi
> > penderitaan para korban. Setelah konsep itu tuntas dibahas maka
> > akan diajukan kepada presiden untuk disetujui. Albert berjanji
> > akan menyelesaikan konsep itu segera.
> >
> > "Rencana permintaan maaf itu sebagai entry point untuk
> > menyelesaikan masalah pelanggaran HAM berat masa lalu itu.
> > Sekaligus mendorong kami membuat konsep," kata Albert kepada
> > wartawan usai bertemu dengan para korban di gedung Wantimpres
> > Jakarta, Rabu (25/4).
> >
> > Walau konsep itu belum selesai dibuat, Albert menggambarkan bahwa
> > nanti akan dibentuk semacam komite khusus yang menangani masalah
> > pelanggaran HAM berat masa lalu. Komite itu akan bekerja sesuai
> > mandat dari Presiden. Kerja-kerja dari komite itu diantaranya
> > menilai apakah pelanggaran HAM dalam kasus tertentu dibawa ke
> > pengadilan HAM ad hoc atau negosiasi, masalah kompensasi dan lain
> > sebagainya. Albert juga optimis presiden akan merespon positif
> > konsep itu.
> >
> > Lebih lanjut Albert menjelaskan bahwa Komite itu nantinya akan
> > terus ada sampai persoalan pelanggaran HAM berat masa lalu dapat
> > diselesaikan secara tuntas. Albert tidak mengetahui secara pasti
> > apakah Komite ini akan dibentuk lewat Keputusan Presiden atau
> > kebijakan Presiden lainnya. Dia berharap agar mandat Presiden
> > akan memberi kewenangan yang cukup bagi komite untuk bergerak.
> > Albert menyebutkan beberapa kewenangan yang ada pada komite
> > misalnya menentukan kompensasi yang diterima para korban,
> > rehabilitasi, restitusi dan lainnya.
> >
> > Pada kesempatan yang sama, Koordinator KontraS, Haris Azhar
> > mengingatkan, sebelumnya Presiden dalam berbagai pertemuan dengan
> > para korban menjanjikan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat.
> > Sayangnya janji itu belum dipenuhi sampai saat ini.
> >
> > Setidaknya terdapat dua hal yang ditekankan Haris kepada
> > Wantimpres untuk mendesak Presiden membuat kebijakan atas
> > penyelesaian kasus ini. Pertama, mendesak Wantimpres supaya
> > membantu Presiden merumuskan suatu kebijakan bagaimana memastikan
> > lembaga hukum dan politik bekerja. Kedua memperhatikan
> > situasi-situasi yang khas dalam setiap kasus pelanggaran HAM
> > berat. Misalnya peristiwa 1965 - 66 memiliki kekhasan tersendiri,
> > begitu pula dengan kasus lain.
> >
> > Selain itu Haris juga menekankan kepada Wantimpres agar Presiden
> > bisa merespon beberapa situasi penting. Misalnya para korban yang
> > dimiskinkan secara politik, kesehatan, hak sebagai warga negara
> > dan lain-lain. Oleh karenanya pemerintah harus segera memberi
> > bantuan-bantuan tanpa mengurangi proses penyelesaian kasus
> > pelanggaran HAM berat dari sisi hukum dan politik. Bagi Haris
> > langkah yang cukup strategis jika Presiden membuat suatu
> > kebijakan untuk memastikan bahwa para korban berhak mendapat
> > kebenaran, keadilan dan perbaikan kondisi.
> >
> > "Ini semacam patokan dari korban. Jadi kalau Presiden mau minta
> > maaf, silahkan. Tapi itu bukan yang utama. Setelah minta maaf ada
> > agenda besar yang harus dituntaskan," tegas Haris kepada wartawan
> > usai mendampingi 25 orang perwakilan korban dari berbagai kasus
> > pelanggaran HAM berat di gedung Wantimpres Jakarta, Senin (25/4).
> >
> > Pada kesempatan itu para korban dan keluarganya berharap kepada
> > Wantimpres untuk segera membuat rumusan kebijakan untuk Presiden
> > dalam penyelesaian kasus ini. Salah satunya diutarakan perwakilan
> > dari korban tragedi 1965 - 1966, Bedjo Untung. Dia mengatakan
> > para korban dan keluarganya sangat menderita selama puluhan
> > tahun. Oleh karena itu dia berharap agar Presiden dapat
> > menerbitkan kebijakan penuntasan kasus pelanggaran HAM berat ini
> > dengan cepat. Mereka juga berharap agar Presiden bukan sekedar
> > meminta maaf, tapi juga langkah konkrit selanjutnya.
> >
> > ***
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment