Breaking News
Loading...
Thursday, 26 April 2012

Info Post
Urgensi Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN)
Komaidi Notonegoro Wakil Direktur Reforminer Institute

SETIAP kali terjadi gejolak atau kenaikan harga minyak di pasar
internasional, pemerintah hampir selalu bingung mencari format kebijakan
yang ideal untuk merespons gejolak harga tersebut. Itu karena desain
kebijakan energi nasional dan kebijakan anggaran memiliki ketergantungan
yang besar terhadap sektor migas, khususnya minyak.
Berdasarkan data yang ada, porsi konsumsi BBM dalam 10 tahun terakhir
rata-rata masih sebesar 58,61% terhadap total konsumsi energi final
nasional. Dalam konteks anggaran, meski telah mengalami penurunan,
kontribusi penerimaan migas masih sekitar 25%­35% terhadap total
penerimaan APBN.

Dalam konteks minyak bumi, Indonesia sesungguhnya telah memasuki fase
untuk lebih berhati-hati. Berdasarkan data yang ada, cadangan minyak
kita saat ini terbukti hanya tinggal 4,3 miliar barel. Artinya, dengan
jumlah penduduk yang telah mencapai 237 juta jiwa, cadangan minyak kita
hanya sekitar 18 barel per kapita.
Dengan tingkat produksi saat ini, cadangan tersebut akan habis dalam
kurun maksimal 12 tahun mendatang. Karena itu, jika bauran energi
nasional masih menggunakan pola yang lama, yaitu bergantung pada
konsumsi BBM, praktis pemenuhan energi nasional pada 12 tahun mendatang
akan tergantung impor, khususnya impor BBM.
Mengapa BBN?
Berdasarkan data yang ada, porsi konsumsi energi final sektor
transportasi dan sektor industri pada 2010 mencapai 80,03% terhadap
total konsumsi energi nasional.
Konsumsi energi final kedua sektor tersebut masing-masing sebesar 36,03%
dan 44% terhadap total konsumsi energi final nasional. Berdasarkan jenis
energi yang digunakan, sektor transportasi menggunakan BBM (99,95%),
listrik (0,02%), dan gas (0,027%), sedangkan sektor industri menggunakan
batu bara (35,54%), gas (28,86%), dan BBM (28,35%).
Dari data tersebut diketahui, peran BBM dalam mendukung aktivitas dan
pertumbuhan kedua sektor tersebut masih cukup signifikan.

Meski bukan merupakan negara yang kaya akan sumber energi (khususnya
energi fosil), Indonesia memiliki potensi sumber energi yang bervariasi.
Selain energi fosil, potensi sumber energi seperti panas bumi, tenaga
surya, tenaga laut, tenaga angin, tenaga air, dan bahan bakar nabati
(BBN), yang notabene tidak semua negara memilikinya, tersedia di
Indonesia. Berdasarkan jenis pemanfaatannya, jenis sumber energi panas
bumi, tenaga surya, tenaga laut, tenaga angin, dan tenaga air hanya
dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan tenaga listrik. Adapun jenis
sumber energi yang memungkinkan digunakan untuk menyubstitusi penggunaan
BBM adalah gas dan BBN.

Mengingat gas merupakan energi fosil yang pada suatu waktu akan habis
dan tidak terbarukan dalam jangka pendek, pengembangan BBN merupa kan
suatu keharusan dan memiliki peran strategis dalam menopang ke ta han an
energi nasional kini dan mendatang.
Selain merupakan energi yang terba rukan, BBN merupakan jenis energi
yang dapat menggantikan fungsi BBM dan fungsi BBM dan dapat digunakan
semua sektor. Sayangnya, pengembangan BBN yang diwacanakan sejak 2005
(ketika harga minyak tinggi) hingga saat ini belum menunjukkan hasil
yang menggembirakan. Penggunaan biodiesel dan bioetanol untuk 2011, yang
di dalam roadmap pemanfaatan biofuel nasional ditargetkan masingmasing
telah mencapai 15% dan 10% terhadap konsumsi solar dan premium, masih di
bawah target.
Pada periode tersebut konsumsi bio diesel dan bioetanol masih di bawah
2% terhadap konsumsi solar dan premium nasional.

Berdasarkan data pemerintah, realisasi penyerapan biodiesel pada 2009
dan 2010 masing-masing sebesar 15,32% dan 0,21% dari target yang
ditetapkan. Adapun realisasi penye rapan bioetanol pada periode yang
sama mas ing-masing sebe sar 0,49% dan 0% dari target yang ditetapkan.
Untuk 2011, meski belum terdapat rilis data resmi peme rintah, bila
mengacu pada realisasi serapan biodiesel yang sampai dengan April 2011
baru sekitar 116 ribu kl dari target sebesar 1,2 juta kl dan serapan
bioetanol 0 kl dari target 694 ribu kl, kondisinya diperkirakan juga
tidak lebih baik jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bertolak dari realisasi tahun-tahun sebelumnya, pada 2012 pemerintah
hanya menetapkan target konsumsi biodiesel dan bioetanol masing-masing
sebesar 4,71% dan 0,95% terhadap kuota solar dan premium bersubsidi yang
ditetapkan di APBN.
Pengusahaan BBN yang relatif tidak berkembang tersebut pada prinsipnya
disebabkan beberapa hal, di antaranya: 1) harga BBM bersubsidi sebagai
produk substi tusi masih relatif murah, 2) biaya produksi BBN ma sih
relatif mahal karena be lum diproduksi dengan skala massal, dan 3)
kesungguhan pemerintah dalam mengembangkan BBN belum tertuang dalam
kebijakan yang nyata dan mengikat.

Jika pemerintah memandang pengembangan BBN memiliki posisi yang
strategis dalam menopang ketahanan energi di masa depan, apa yang
dilakukan negara-negara yang telah sukses dan sedang berupaya
mengembangkan BBN seperti Brasil, Argentina, Thailand, dan Kanada perlu
dijadikan contoh.

Dalam upaya mengembangkan BBN, negara-negara tersebut melakukan beberapa
hal, di antaranya: 1) memberikan insentif fiskal untuk pengembangan
kilang BBN, 2) memberikan pinjaman lunak dan/ atau bunga rendah untuk
pembiayaan dalam pengusahaan BBN, 3) mengombinasikan kebijakan
pengusahaan BBN dengan kebijakan lingkungan hidup, 4) membebaskan pajak
korporasi selama periode tertentu bagi investor yang mengembangkan BBN,
dan 5) memberikan dan mengembangkan desain kebijakan fiskal dan
investasi yang menarik agar sektor swasta ikut terlibat aktif dalam
pengembangan BBN.

Jika negara-negara tersebut dapat mengembangkan dan mengusahakan BBN
sesuai dengan tahapan dan target yang ditetapkan masing-masing,
Indonesia semestinya juga dapat melakukan itu. Dari sejumlah negara yang
telah sukses mengembangkan BBN, kunci utamanya bukan karena negara
tersebut memiliki kemampuan finansial yang cukup. Yang menjadi kunci
keberhasilan negara-negara tersebut ialah kemauan, konsistensi, dan
kesungguhan dalam mengembangkan BBN.

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/04/27/ArticleHtmls/Urgensi-Pengembangan-Bahan-Bakar-Nabati-BBN-27042012034019.shtml?Mode=1

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment