Breaking News
Loading...
Friday, 27 April 2012

Info Post
ISNU dan Indonesia PDF Print
Saturday, 28 April 2012
Sebagai lokomotif perubahan, begitulah seharusnya seorang sarjana
dipandang dan diharapkan. Sarjana bukanlah suatu titel semata, melainkan
pembawa perubahan terhadap kebaikan dan kemajuan pembangunan bangsa dan
negara.


Sarjana diharapkan dapat menjadi lokomotif yang mendorong upaya kemajuan
bangsa dan perbaikan penyelenggaraan negara yang selama ini telah
porakporanda akibat perilaku koruptif para pejabat negara. Seseorang
dikatakan sebagai seorang "sarjana" jika telah menempuh kualifikasi
pendidikan sehingga ilmu yang didapatkan seharusnya jauh berkembang
dibanding sebelumnya.

Maka itu, sarjana dikatakan sebagai seseorang yang pandai karena
memiliki pengetahuan yang selangkah lebih maju.Namun, Indonesia tidak
hanya membutuhkan sarjana yang pandai, tapi juga cerdas dan cerdik, yang
memiliki kemampuan dan kemauan tinggi untuk mengubah sesuatu menjadi
lebih baik. Kenyataannya,saat ini para sarjana belum menjadi agen
perubahan.Para sarjana yang diharapkan dapat memberikan sumbangsihnya
terhadap negara saat ini malah menjadi beban negara.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dari
jumlah angkatan kerja sebanyak 21,2 juta, terdapat pengangguran yang
totalnya mencapai 4,1 juta (21,2%) pada 2011. Ironisnya, separuh
pengangguran tersebut atau sebanyak dua juta orang berasal dari lulusan
diploma dan sarjana.Pengangguran dari kalangan terdidik ini tentu
memperburuk citra dunia pendidikan Indonesia. Ada berbagai sebab mengapa
pengangguran dari kalangan sarjana begitu melimpah.

Dua di antaranya yaitu rendahnya soft skill atau keterampilan di luar
kemampuan utama dari sarjana yang bersangkutan serta paradigma yang
berkembang di masyarakat bahwa pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun
pegawai swasta merupakan pilihan utama. Selain kedua jenis pekerjaan
tersebut, seseorang belum dapat dikatakan memiliki pekerjaan yang tetap.
Padahal menjadi wiraswasta merupakan pilihan pekerjaan yang tepat.
Selain menopang ekonomi bangsa, juga memajukan hasil karya bangsa.

Sarjana yang demikian adalah sarjana yang cerdik dan pandai. Untuk itu,
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) mengajak sarjana yang cerdik
pandai untuk bersama-sama memajukan Indonesia menjadi bangsa yang
maju.Para sarjana memiliki tugas menjadi inspirator perubahan bangsa.
Para sarjana ini pun tidak terbatas pada satu jenis disiplin ilmu,namun
dari beragam ilmu dan profesi.

Selain sarjana cerdik pandai dan ulama, ISNU juga mengajak para pemimpin
bangsa terlibat aktif dalam memajukan bangsa di mana para pemimpin
tersebut dapat berkontribusi di pemerintahan untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat.Penggabungan ketiga elemen ini merupakan prinsip
dasar ISNU yang menggabungkan tiga pilar kehidupan bangsa yakni cerdik
pandai, ulama,dan umara(pemimpin).

Ketiga pilar yang berasal dari beragam latar belakang itulah yang akan
membentuk Indonesia menjadi negara yang maju. Sejak dahulu kala, ketiga
pilar yang dibawa oleh ISNU ini sebenarnya telah mendarah daging pada
masyarakat Indonesia. Ketiga pilar ini telah diakui oleh masyarakat adat
di Indonesia, dan menjadi warisan kearifan lokal yang sampaisekarang
masih dipegang teguh dan dipertahankan.

Adalah masyarakat adat Minangkabau yang menyebut ketiga pilar ini dengan
sebutan Tungku Tigo Sajarangan. Tungku Tigo Sajarangan adalah konsep
masyarakat Minangkabau dalam memimpin atau membawa masyarakat ke dalam
kehidupan yang sejahtera, serasi, selaras, dan harmonis.Konsep ini
memasukkan peran ninik mamak,alim ulama,dan cadiak pandai sebagai tiga
pilar kepemimpinan masyarakat Minangkabau.

Ninik mamak adalah penghulu adat atau orang yang dituakan dan dianggap
layak untuk menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ninik mamak dianggap sebagai
pribadi yang berkembang terus,berilmu,punya wawasan yang luas, mempunyai
kemampuan dan punya kapabilitas, punya wibawa, disegani anak kemenakan,
kukuh dengan pendirian, serta tidak terombang-ambing dan solid.
Ciri-ciri tersebut dianggap sebagai ciri-ciri yang memenuhi syarat
sebagai seorang pemimpin.

Adapun alim ulama adalah seorang yang berilmu agama tinggi sehingga
mengerti hukum dan aturan agama.Peran alim ulama untuk membimbing rohani
untuk jalan ke akhirat.Dalam peran yang lebih besar,alim ulama berperan
untuk memberikan pandanganpandangan kenegaraan dari sudut pandang nilai
agama.Pedoman alim ulama adalah hukum agama atau nilai-nilai syariat
yang berasal dari Alquran dan As-Sunnah.

Terakhir, namun memiliki peran dan fungsi yang signifikan adalah cadiak
pandai (cerdik pandai). Masyarakat Minangkabau memandang cerdik pandai
adalah golongan orang-orang berilmu dan memiliki kemampuan untuk
memecahkan masalah. Di sisi lainnya, ketiga pilar yang dibawa oleh ISNU
tersebut juga bukan hanya menjadi kearifan lokal (local wisdom). Islam
selama berabadabad yang lalu telah memberikan kedudukan dan keutamaan
tersendiri bagi ketiganya.

Dalam QS Al Mujadilah: 11 Allah berfirman: "Dan apabila dikatakan:
Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat
orangorang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan." Kemuliaan yang Allah janjikan tidak dapat dicapai hanya
dengan memiliki ilmu pengetahuan belaka,tapi juga harus beriman.
Sesungguhnya iman dan ilmu adalah sejalan dan tidak dapat dipisahkan.
Iman tanpa ilmu ibarat orang lumpuh yang tidak bisa berbuat
apa-apa.Namun,ilmu tanpa iman sama halnya dengan orang buta,tak mampu
melihat ke mana arah dan tujuan.

Selain itu, dalam kaitannya dengan kedudukan dan keutamaan umara
(pemimpin) Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah Hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA: "Tujuh golongan yang berada di bawah
naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan Allah, pemimpin yang
adil, dan seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan
kanannya"(HR Bukhari dan Muslim). Begitu utamanya Islam melihat
kedudukan dan peran bagi ketiganya, Islam pun memuliakan ketiganya
dengan berbagai dalil untuk menguatkan dan mengukuhkan peran ketiganya.

Untuk itu, ISNU sebagai sebuah wadah yang mengumpulkan peran ketiganya,
yaitu cerdik pandai, alim ulama, dan umara berusaha untuk menyinergikan
peran ketiganya dalam sebuah langkah yang serasi. Hal ini karena
keserasian di antara ketiganya akan menciptakan kepemimpinan yang mampu
membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat. DEWI ARYANI MSI
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan; Ketua PP Ikatan Sarjana NU (ISNU)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/490070/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment