SUARA MAHASISWA, Melahirkan Resi di Partai Politik PDF Print
Saturday, 28 April 2012
Kalau kita melakukan retrospeksi, jalan liberalisasi politik yang
ditempuh para aktor politik pada 1998 sebenarnya tidak salah.Mengacu
pada pengalaman banyak negara, proses transisi demokrasi umumnya selalu
dimulai dengan liberalisasi politik.
Kebijakan ini penting sebab prasyarat pokok sebuah negara demokrasi
memang harus ada kebebasan politik. Akan tetapi, yang tidak disadari
adalah kebebasan politik pada dasarnya tetap membutuhkan platform
bersama sebagai pegangan. Semacam konsensus elite tentang bagaimana masa
depan demokrasi, bagaimana sistem politik baru harus ditata,dan
seterusnya. Platform bersama inilah yang nyaris absen pada awal gerakan
reformasi.
Konsentrasi para elite saat itu lebih tercurah bagaimana merubuhkan
rezim dan belum sempat memikirkan bagaimana kehidupan politik dan sosial
pascarezim otoritarian harus ditata dan dikelola. Apa yang terjadi
kemudian? Euforia politik pun terjadi.Para elite politik beramai-ramai
membentuk partai politik, tokohtokoh masyarakat menjadi rebutan untuk
mengisi struktur partai dari level pusat hingga kabupaten. Karena pemilu
harus segera digelar,proses mobilisasi instan pun dilakukan.
Semua kemudian hanya berpikir jangka pendek,bagaimana memenangkan
pemilu. Soal bagaimana dampaknya,tampaknya tak terpikirkan kembali. Di
tengah suasana euforia kebebasan itu,kekuatan-kekuatan ideologi yang
hampir mati pun mendapat ruang sosial politik kembali. Ada lima tipologi
besar ideologi politik yang secara aktual menjadi orientasi politik
berbagai kelompok gerakan di Indonesia selama masa reformasi ini. Empat
di antaranya bersumber dari pemikiran Barat, dan satu lagi bersumber
dari gagasan keagamaan (Islam).
Kelima tipologi ideologis itu memiliki varian masing-masing yang saling
berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Berangkat dari tipologi
yang berbeda tersebut,pertanyaannya adalah siapkah Indonesia
berdemokrasi? Pertanyaan itu yang akan menentukan lahirnya "resi" di
dalam tubuh partai politik. Belajar dari Partai Sosialis Indonesia (PSI)
yang dibentuk oleh Perdana Menteri pertama Indonesia,Sutan Sjahrir,ada
beberapa hal yang menarik untuk diangkat.Kendaraan politik ini memiliki
kader-kader nasional yang begitu luar biasa.
Dari mereka yang merambah di ranah politik sampai sastra. Ideologi yang
diusungnya adalah "sosial demokrasi". Wacana populis ini mensyaratkan
persamaan politik dan ekonomi masyarakat. Agenda mereka adalah
menyangkut persoalan-persoalan redistribusi. Gagasan pokoknya adalah
tentang "welfare state" serta kombinasi antara persamaan sosial dan
pasar ekonomi.
Resi dibangun bukan oleh orang-orang berpopulasi besar, melainkan resi
bisa dibangun oleh creative minority yang merindukan bangsa ini
berdaulat. Sutan Sjahrir sudah membuktikan itu dengan konsistensinya
memperluas kedaulatan Nusantara dari tiga pulau menjadi
berpulau-pulau,bukan karena kekuasaan.M REZA S ZAKI Mahasiswa Fakultas
Hukum UGM
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/490073/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] SUARA MAHASISWA, Melahirkan Resi di Partai Politik
Info Post
0 comments:
Post a Comment