Breaking News
Loading...
Friday, 27 April 2012

Info Post
TAJUK, Naikkan Pajak Kendaraan Bermotor PDF Print
Saturday, 28 April 2012
Sampai kapan masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan menyandera
bangsa ini? Respons beragam akan muncul dari berbagai pihak baik yang
pro maupun kontra subsidi BBM.


Pihak yang kontra pada umumnya sangat jelas ingin menghapuskan segala
bentuk subsidi karena tidak sesuai dengan logika pasar bebas.Sementara
pihak yang pro berpendapat bahwa subsidi itu merupakan penyelamat jutaan
rakyat kecil di Indonesia yang akan dengan serta-merta terjerembab ke
dalam jurang kemiskinan jika subsidi dikurangi atau bahkan dicabut. Lalu
bagaimana posisi pemerintah dalam menghadapi pro-kontra tersebut?

Tampaknya pemerintah masih malu-malu.Pertunjukkan sidang paripurna DPR
akhir bulan lalu yang salah satu agendanya untuk membahas masalah
subsidi BBM menunjukkan keraguraguan itu.Pemerintah berargumen bahwa
subsidi BBM "salah sasaran", namun dalam usulannya tidak berusaha
meminimalisasi salah sasaran tersebut,tapi ambil jalan pintas dengan
menaikkan harga. Kalau main cabut subsidi,mungkin pihak yang selama ini
menjadi penikmat subsidi BBM "salah sasaran" bisa diminimalisasi.

Sayangnya, ada collateral damage yang tidak bisa dipandang sebelah
mata,yaitu rakyat kecil. Sudah saatnya pemerintah thinking outside the
box.Jangan pilih solusi yang dalam pelaksanaannya akan menyusahkan dan
merugikan rakyat kecil. Salah satu yang bisa menjadi pilihan menarik
adalah membebankan pajak lebih besar pada para penikmat subsidi BBM
"salah sasaran"tersebut.

Memang selama ini para pengguna mobil dan sepeda motor menikmati subsidi
lebih besar daripada kontribusinya terhadap pemasukan negara.Ambil saja
contoh pengemudi mobil yang ratarata berkendara 50 kilometer setiap
hari.Dengan mobil yang umum di pasaran seperti Toyota Avanza,Honda
Jazz,Nissan Livina—yang dalam rencana pembatasan cc tidak diwajibkan
membeli BBM nonsubsidi—atau merek-merek lainnya,pengemudi tersebut akan
menghabiskan sekitar 5 liter premium per hari.

Jika mengambil angka moderat dari pemerintah, tiap liter premium dengan
harga minyak dunia saat ini itu disubsidi Rp2.500. Berarti setiap hari
pengendara mobil tersebut "disubsidi" pemerintah Rp12.500 dan setahun
(365 hari) mencapai Rp4.525.000.Padahal mobil-mobil di kelas itu pajak
tahunannya hanya di kisaran Rp2–2,5 juta. Sekarang mari lakukan
matematika sederhana.Pada 2010 ada 8,89 juta mobil di Indonesia (BPS).

Jika saja tiap mobil dinaikkan pajak tahunannya Rp2 juta, akan ada
tambahan pemasukan instan Rp17,8 triliun untuk pemerintah.Angkanya akan
jauh lebih besar jika dilakukan perhitungan lebih lengkap dari
pemerintah. Jika di perdebatan pengurangan subsidi pemerintah berargumen
bisa menyelamatkan Rp30–40 triliun, dari hanya pos menaikkan pajak
kendaraan sudah bisa ditutupi sekitar setengahnya.

Beban subsidi juga akan berkurang karena penggunaan mobil akan
berkurang. Ada satu masalah kecil dengan konsep itu,yaitu pajak
kendaraan bermotor itu menjadi hak pemerintah daerah.Namun, kalau
pemerintah sampai berani bermanuver dengan melakukan perubahan APBN-P
yang juga memberikan dampak langsung bagi rakyat kecil, kenapa
pemerintah tidak berani mengubah beberapa UU yang mengatur perpajakan
utamanya pajak kendaraan bermotor?

Bisasaja pemerintah menaikkan besaran pajak kendaraan bermotor yang
dikenakan,namun sekaligus mengubah dengan perhitungan tertentu agar
pemerintah pusat mendapatkan persentasenya,namun pemerintah daerah tidak
kehilangan sumber pendapatannya. Bolehkah pemerintah menaikkan pajak?
Tentu boleh, alasannya sangat sahih.

Lalu akankah terjadi penolakan besar-besaran seperti demonstrasi
pengurangan subsidi tempo hari? Tentu tidak. Pengguna mobil jelas akan
keberatan,namun mereka tentu tidak bisa berdemonstrasi mengutamakan
rakyat kecil. Itu baru namanya kebijakan yang tepat sasaran.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/490074/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment