Breaking News
Loading...
Friday, 25 May 2012

Info Post
Benarkah Kita Krisis Pemimpin? PDF Print
Saturday, 26 May 2012
Pilpres masih agak lama, tetapi sosok-sosok yang ditampilkan, baik oleh
partai politik maupun media massa, masih banyak dikomentari berbagai
pihak, "Kok ituitu saja?"

Setiap zaman menemukan pemimpinnya.Apabila yang kita maksud pemimpin
adalah presiden karena memang ia yang memiliki kekuasaan nyata dalam
sistem politik kita, Pilpres 2014 sungguh merupakan momentum yang
serius. Tapi, komentar "kok itu-itu saja" itu segera menimpa keseriusan
itu.Tapi, demokrasi politik itu prosedural. Konsekuensinya, momentum
serius bisa tidak dihadiri oleh sosok-sosok yang seideal yang diharapkan.

Prosedur pemilihan sosoksosok yang hendak dipentaskan dan kontestasikan
pada 2014 sangat ditentukan oleh partaipartai politik. Manakala kita
berbincang tentang partaipartai politik di Indonesia saat ini, tidak ada
yang demokrasi internalnya dijaminkan untuk memunculkan sosok terbaik.
Prosedur pemilihan sosok tampak lebih ditentukan oleh kekuatan kekuasaan
yang dikendalikan elite-elite khusus alias para oligar.

Partai, kalau demikian, bukan panggung terbuka bagi sosok-sosok
potensial mana saja untuk bisa memanfaatkannya tampil berkompetisi, dan
akhirnya tersaring yang "terbaik". Kalau bukan logika
patrimonial-dinastik, yang masih dominan kita jumpai di sini adalah,
logika kepemilikan. Partai sekadar dimiliki sosok tertentu, dan yang
terkuat itulah yang muncul. Partai belumlah merupakan entitas yang
menerapkan paradigma demokrasi deliberatif.

Ada semacam kelas-kelas politik yang membuat logika merebut dan
mempertahankan kekuasaan lebih menonjol, ketimbang logika demokrasi
deliberatif. Ialah yang memberi kesempatan segenap pemangku kepentingan
di dalamnya untuk unjuk gagasan dan ketat disiplin demokrasinya.
Partisipasi yang otentik tidak dapat muncul, kecuali pola kuno
mobilisasi para elite khususnya secara pragmatistransaksional.

Kultur kerajaan yang patrimonial, ditambah dengan rekayasa politik yang
transaksional, membuat apa yang ada di hadapan kita bukan pilihan yang
sangat diharapkan. Pemilih dihadapkan pada sikap dan tindakan yang
minimalis. Tetap memilih walaupun pilihannya bukan yang terbaik.
Dalihnya,ketimbang kita tidak punya pemimpin, yang muncul adalah
kekacauan. Suatu bangsa yang dipimpin sosok otoriter,kata sebuah dalil,
lebih baik ketimbang kekacauan karena kekosongan pemimpin.

Sekat Prosedural

Kita bisa mengomentari soal keterbatasan sistem dalam hal ini. Sistem
politik kita ternyata tidak menjamin ada jalan terbuka bagi sosok-sosok
potensial untuk bisa menjadi calon presiden. Mempercayakan begitu saja
kepada partai-partai tidaklah cukup menyelesaikan masalah. Sementara
jalan bagi calon independen disumbat oleh sistem. Konsekuensinya, partai
terlepas dari kelemahan-kelemahannya, entitas yang sangat istimewa.

Manakala seorang potensial dan sangat pantas memimpin bangsa tidak punya
kekuasaan super di partai, ia tidak akan dapat turun ke gelanggang.
Partai tampak semakin diposisikan sebagai sekadar hanya kendaraan
politik dalam demokrasi elektoral yang berdimensi transaksional. Apakah
kita sedang krisis kepemimpinan? Saya menjawabnya tidak. Kita
sesungguhnya tidak sedang krisis calon pemimpin.

Kita punya seabrek calon pemimpin.Sayangnya, mereka tidak tertampung dan
memperoleh akses untuk bergumul dan berkompetisi dalam sistem. Untuk
mencari satu orang pemimpin dan wakilnya, sesungguhnya mudah karena stok
calon pemimpin kita tak kurang-kurang. Misalnya, untuk membentuk
kesebelasan sepak bola tangguh semestinya mudah saja karena stok anak
muda yang punya hobi sepak bola seluruh Indonesia tak kurang-kurang.

Tetapi, yang menjadi soal adalah hambatan prosedur tadi. Prosedur
membuat kealamiahan dan keotentikan terpinggir. Yang muncul ialah yang
berdisiplin prosedural. Barangkali inilah keterbatasan demokrasi politik
di mana saja, yakni ketika prosedur tidak respons secara alamiah dan apa
adanya,tapiselalumenciptakan para pemain terdorong untuk berkompetisi
asal-asalan dan kuat-kuatan semata.

Tidak, sekali lagi, kita tidak sedang krisis calon pemimpin, tapi kita
terbelenggu pada prosedur yang membentengi potensi-potensi,meminggirkan
kearifan-kearifan, dan menyeyogiakan kekuatan kekuasaan untuk memandu
pilihanpilihan. Plato bahkan mengeluh dengan logika dasar demokrasi
justru karena prinsip kesederajatannya.

Plato tampaknya tidak dapat memahami prinsip satu orang satu suara.
Bagaimana mungkin suara tuan sama dengan pembantu.Tetapi, bukan
kesederajatan dalam konteks itu yang menjadi soal dalam demokrasi
substansial kita, melainkan ketika prinsip kesederajatan itu tergusur
oleh prinsip kekuatan kekuasaan.

Kekuasaan dan Uang

Kekuatan kekuasaan (power) membuka kesempatan bagi rekayasa sumber daya.
Demokrasi prosedural dan elektoral dikebiri prinsip kesederajatannya
oleh rekayasa sumber daya yang secara konkret pada zaman kita bernama
politik uang itu. Politik uang secara luas tidak sekadar membeli suara
dalam pemilu, melainkan juga untuk memuluskan kekuasaan yang hendak
direbut atau dipertahankan.

Power pada akhirnya semakin identik dengan money. Ketika kekuasaan sudah
dipegang, ia menghasilkan apa saja terutama uang.Kekuasaan dan uang
itulah lantas yang dominan di arena politik. "Democracy is only the game
intown".Karenaitu,tidakcukup memungkinkan yang lemah dan tak berdaya
secara kekuasaan dan uang tampil sebagai pemimpin nasional.Demokrasi
prosedural kita krisis prosedur untuk menjamin itu. Maka itu, tidak ada
yang gratis untuk menjadi pemimpin nasional.

Nah, kalau ini kita sadari,tentu saja kearifan "pemimpin yang terpilih"
menjadi penting. Seberapa jauh ia akan bisa menjalankan kepemimpinannya
kelak, mendekati keotentikan, atau menjauhinya. Sejarah para pemimpin
dunia sejak dahulu kala, apakah yang tampil secara demokratis atau
tidak, akan diuji dalam kearifan kepemimpinannya.

Arif dalam makna yang luas, tidak saja bijak, tetapi juga kompeten alias
mampu membalik wajah sejarah bangsanya, menjadi bangsa yang besar. Bukan
bangsa kerdil.● M ALFAN ALFIAN Dosen Pascasarjana Ilmu Politik
Universitas Nasional, Jakarta

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/498055/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment