Breaking News
Loading...
Friday, 25 May 2012

Info Post

Kita tinggal menunggu sambil menyaksikan hari ini bulu tangkis yang direnggut, esok entah apa lagi.''

BANGSA kita kini merasakan kemurungan yang kian bertambah dari hari ke hari. Hampir di segala lini dalam percaturan kompetisi global, negeri ini kini kedodoran.

Peristiwa terakhir ialah kekalahan tim bulu tangkis kita atas Jepang 2-3 dalam perempat final Piala Thomas di Wuhan, China, yang menjadi kenyataan paling menyakitkan.
Menyakitkan karena itulah penampilan terburuk kita di Piala Thomas sejak keikutsertaan di turnamen dua tahunan tersebut pada 1958.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak Thomas Cup, Indonesia yang sudah 23 kali berpartisipasi dengan raihan 13 kali juara dan 5 kali runner-up gagal masuk semifinal. Prestasi terburuk tim Thomas sebelumnya ialah tersingkir empat kali sebagai semifinalis, yakni pada 1990, 2004, 2006, dan 2008.

Pada perhelatan dua tahun sebelumnya di Kuala Lumpur, Indonesia tampil sebagai runner-up setelah kalah dari China 0-3. Terakhir kali Indonesia jadi juara pada 2002 di Guang zhou, China, dengan menundukkan Malaysia di final, sekaligus mempertahankan titel lima kali berturut-turut.

Sejarah juga mencatat negeri ini pernah berada di era yang amat membanggakan karena melahirkan ikon dalam bulu tangkis dunia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, hingga Alan Budikusuma dan Susy Susanti. Mereka berjuang mengangkat tinggi-tinggi nama Indonesia kendati sebagian dari mereka disia-siakan saat mengurus identitas kewarganegaraan. Namun, kini kita bahkan kalah dari Jepang, negeri yang tidak pernah mengenyam sejarah manisnya juara Thomas Cup sejak turnamen itu digelar pada 1948.

Kita seperti tengah berada dalam kutukan. Satu-satunya kebanggaan kita yang tersisa, yakni bulu tangkis, bahkan harus terenggut sebelum masuk babak empat besar. Ibarat tubuh, anggota badan kita kini dicabuti hingga ke bulu-bulunya.

Negeri ini memang masih dalam barisan juara, tapi sayangnya juara dalam `kompetisi' korupsi. Kita juga memang masih dalam barisan `negara besar', tapi sekadar dalam jumlah penduduk dan luas wilayah.

Sejarah buruk bulu tangkis kali ini menjadi penegas bahwa kita memang tengah dibelit krisis, yakni krisis kepemimpinan dan regenerasi. Celakanya, para pemangku kepentingan bulu tangkis, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga, seperti tidak mengetahui, atau pura-pura tidak tahu, keadaan krisis tersebut.

Mereka bekerja seperti biasa, seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa dengan bulu tangkis kita. Regenerasi pemain tidak dipersiapkan secara serius, bahkan kompetisi di berbagai daerah berlangsung tanpa gereget.

Alih-alih mengevaluasi mengapa kekalahan terburuk itu bisa terjadi, pucuk pimpinan bulu tangkis malah menyalahkan pemain dengan menyebut mereka bertanding kurang motivasi.

Kerisauan kita dalam beberapa kali di forum ini bahwa kita memang defisit negarawan, tapi surplus elite pragmatis kian jelas belaka. Tidak mengherankan bila negeri ini kian dipandang sebelah mata bahkan oleh bangsa lain yang kecil.

Kalau tidak ada gerakan perubahan yang besar, kita tinggal menunggu sambil menyaksikan hari ini bulu tangkis yang direnggut, esok entah apa lagi.

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/26/ArticleHtmls/EDITORIAL-Hilangnya-Kebanggaan-Bangsa-26052012001037.shtml?Mode=1

0 comments:

Post a Comment