Breaking News
Loading...
Monday, 28 May 2012

Info Post

Kita khawatir polisi tidak lagi menjamin rasa aman masyarakat.
Polisi telah kehilangan otoritas.
Lalu ke manakah warga mesti mencari? Tragis.

JAKARTA kian tidak aman. Peringatan itu tidak main-main.
Perampokan dengan senjata api kerap meletus di ibu kota negara ini. Tidak hanya itu, konser Lady Gaga pun batal digelar karena faktor keamanan.

Ancaman keamanan itu bisa ditujukan langsung ke Lady Gaga, para kru, dan manajemennya. Menurut promotor pada Minggu (27/5), keamanan penonton pun bisa terancam.

Lady Gaga membatalkan konsernya dengan alasan menghormati keadaan di Indonesia dan tidak ingin ada orang cedera hanya karena menonton konsernya. Padahal, izin sudah 95% beres.

Semula kita beranggapan alasan Lady Gaga membatalkan konser karena pertimbangan keamanan sungguh menyepelekan kemampuan polisi menjaga keamanan dan ketertiban.
Namun, alasan Lady Gaga itu mendapat pembenaran hanya beberapa jam kemudian. Tiga orang tewas dan lima luka luka seusai pertandingan sepak bola Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Senayan Jakarta pada Minggu.

Pembatalan konser Lady Gaga dan tewasnya tiga anak muda di Senayan membuat kita miris.
Miris karena mencuatnya pertanyaan siapakah yang memiliki otoritas menciptakan rasa aman bagi warga? Masihkah polisi?
UUD 1945 hasil amendemen kedua pada Pasal 30 ayat (4) secara tegas menyebutkan kepolisian sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum. Fungsi itu diperkuat lagi dalam UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Namun, kita khawatir otoritas itu tidak lagi di polisi, tetapi di tangan kelompok tertentu. Kelompok itulah kini memegang hegemoni untuk menentukan sesuatu boleh dilakukan atau dilarang.

Sesungguhnya aroma itu sangat kental dalam pembatalan konser Lady Gaga.

Polisi, meski berkali-kali membantah, terkesan tunduk pada tekanan kelompok tertentu. Kita harus terus terang mengatakan polisi telah merendahkan diri mereka sendiri.

Polisi yang semestinya menjadi pemegang tunggal kekuasaan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat seolah dilucuti dan kewenangannya disewakan kepada komprador tertentu.

Keberingasan kelompok tertentu yang hanya ditonton polisi kini dicontohi warga di berbagai wilayah Tanah Air.
Kekerasan pun marak. Mereka beranggapan polisi akan kalah asalkan dilawan ramai-ramai.

Pembatalan konser Lady Gaga dan tewasnya tiga pemuda di Senayan menjadi advertensi yang amat jelek mengenai keamanan Indonesia ke dunia internasional. Jangan kaget jika di kemudian hari konser-konser artis dunia, wisatawan asing, dan klub-klub sepak bola mancanegara membatalkan kunjungan ke Indonesia dengan alasan keamanan.

Kita khawatir polisi tidak lagi menjamin rasa aman masyarakat. Polisi telah kehilangan otoritas. Lalu ke manakah warga mesti mencari? Tragis.

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/29/ArticleHtmls/EDITORIAL-Rasa-Aman-yang-Hilang-29052012001032.shtml?Mode=1

0 comments:

Post a Comment