Bangunan retak adalah dampak penurunan tanah (subsidence) yang terjadi di sekitar semburan lumpur.
KERUSAKAN dua ruang kelas Sekolah Da sar Negeri (SDN) Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin kian parah karena separuh lantai kelas ambles. Sudah empat tahun kedua ruangan itu tidak dipakai untuk proses belajarmengajar.“Kami takut roboh,” kata Abdul Arif, guru di SDN Ketapang, kemarin.
Bahaya lain yang mengancam di kelas itu ialah munculnya semburan gas liar yang mudah terbakar jika disulut api. Gas mendesis keluar di dalam dan di belakang ruang kelas.
Sekolah ini tidak sendiri. Di depannya, Taman Kanak-Kanak Dharma Wanita mengalami nasib serupa. Tembok dua ruangan retak.
Kedua sekolah juga dikelilingi rumah warga dengan kondisi sama. Tembok retak dan lubang gas muncul tak beraturan.
Penyebabnya, semburan lum pur bercampur gas akibat pengeboran yang dilakukan PT Minarak Lapindo Brantas
di kawasan yang tidak jauh da ri lokasi itu. Bangunan retak adalah dampak penurunan tanah (subsidence) yang terjadi di sekitar semburan lumpur.Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) memperkirakan volume lumpur yang sudah keluar dari dalam bumi sudah mencapai 140 juta meter kubik (m3).
Desa Ketapang tidak sekali ini saja menderita. Sebelumnya, luberan lumpur akibat tanggul jebol juga menggenangi wilayah itu. Kejadian yang sama me nimpa warga Desa Glagah Arum, Kecamatan Porong.Ada ratusan lubang gas di sekitar pusat semburan. Yang terjauh ada di Desa Pamotan atau mendekati lokasi Jalan
Arteri dan jalan tol yang mulai dibangun.“Semburan gas liar di jalan arteri Porong menunjukkan adanya kantong-kantong formasi yang mengalami penurunan tanah. Jika sudah terjadi subsidence, bukan hanya di permukaan yang muncul gelembung gas, melainkan juga di bawah permukaan jalur arteri Po
rong,” kata pakar dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Djaja Laksana.Artinya, kata penemu teori Ber noulli ini, adanya rongga di bawah jalan arteri akan mem buat jalan itu tidak akan bertahan lama. Semburan gas juga jadi ancaman serius warga di 65 RT di tiga kecamatan. Pemerintah sudah menggerakkan
warga untuk meninggalkan rumah mereka.Meluas Derita akibat semburan lumpur Lapindo sepertinya terus dan akan meluas.
Semula, wilayah korban lumpur lama yang masuk areal peta terdampak hanya warga di Desa Renokenongo, Siring, dan Jatirejo di Kecamatan Porong serta Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin. Sebagian lagi ialah areal sawah di Desa Mindi, Kecamatan Glagah Arum, dan 19 rumah warga di Desa Gempolsari. Jumlah korban lama itu mencapai 13 ribu berkas.
Dalam perjalanan, wilayah yang masuk areal peta terdampak bertambah lagi di tiga desa di Kecamatan Jabon yaitu Desa Besuki, Kedungcangkring, dan Pejarakan. Korban lumpur makin bertambah dengan masuknya wilayah sembilan RT di Desa Siring Barat, Mindi, dan Jatirejo Barat.
Terakhir, pemerintah akhirnya menyetujui tuntutan warga di 65 RT, yang lingkungan mereka digerogoti gas. Total ada 25 ribu berkas yang harus diberi ganti rugi oleh pemerintah dan PT Minarak Lapindo Jaya.
Tahun ini, dari APBN-P 2012, pemerintah mengucurkan Rp1,6 triliun untuk penanganan semburan lumpur Lapindo serta berbagai persoalan sosial akibat semburan lumpur.
Dana Rp500 miliar di antaranya untuk membayar ganti rugi 20% warga di luar peta terdampak di wilayah 65 RT. Warga juga akan mendapatkan uang jaminan sosial, yang dianggarkan sebesar Rp50 miliar. Semua anggaran dikelola BPLS.
Selama enam tahun, APBN sudah mengucurkan dana Rp6,8 triliun ke BPLS. (N-1)http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/29/ArticleHtmls/Volume-Lumpur-Capai-140-Juta-M3-29052012009014.shtml?Mode=1

0 comments:
Post a Comment