Breaking News
Loading...
Friday, 25 May 2012

Info Post
Syah(wat)rini PDF Print
Saturday, 26 May 2012
Apa yang digunjingkan mengenai hubungan Syahrini, penyanyi, selebritas
dengan pria yang dikenalkan sebagai Bubu (ada yang menyebut sebagai
Bubuhu, plesetan dari Bo Bo Ho yang juga gundul), adalah busa dari bir
yang dituang.

Akan hilang dengan sendirinya. Menguap dan lenyap bersama semilirnya
angin dalam sekejap. Kalau Syahrini mau belajar dari perjalanan hidup
Nia Daniati,atau Ibu Megawati, hidupnya akan berbeda. Kecuali kalau
memang hanya menginginkan sensasi.

Prestasi-Populer

Di zaman penuh televisi,menurut seniman Andy Warhol, setiap orang
mempunyai kesempatan untuk mendadak populer. Seorang yang bahkan tidak
punya bakat menyanyi sama sekali bisa menjadi terkenal karena mengikuti
American Idol. Keterkenalan atau popularitas yang diperoleh tak ada
hubungannya dengan bakat dan atau kemampuan bernyanyi. Popularitasnya
dicapai karena ia terlihat aeng, aneh, dan kontroversial.Bukan karena
prestasi yang diraih dari disiplin profesi yang ditekuni.

Televisi khususnya, media massa umumnya,dan terutama juga apa yang
kemudian kita kenal sebagai media sosial tidak terlalu membedakan kedua
posisi prestasi dengan populer. Begitulah seorang Syahrini bisa terus
menjadi bahan pembicaraan. Dan perempuan asal Sukabumi—atau Bogor ini
menikmati dan memanfaatkan daya sihir dan pelintir pada dirinya. Soal
dandanan rambut, alis mata, hubungannya dengan Anang, dan kemudian
dengan yang dikenalkan sebagai Bubu,cucu keluarga Sultan Selangor,
menjadikan dirinya "sesuatu banget."

Kalau nanti tidak terbukti sebagai cucu Sultan, atau bukan siapa-siapa,
atau pacar bayaran, itu bagian yang merisaukan pelaku atau yang
dilibatkan. Kalau masih bisa ditutuptutupi selama masih menjadikan
newsmaker, pembuat berita, akan dilakukan.Kalau tak menambah nilai
berita, ya tinggal dibuka atau dibiarkan terbuka dengan sendirinya.
Demikian juga halnya permainan syahwat—nafsu atau keberahian—yang
merupakan berita "seksi", termasuk pacar, atau mantan pacar, istri atau
mantan istri—untung tak ada isilah mantan anak, dan atau calon atau
bakal calon.

Semakin mengambang, semakin "seakan- akan", semakin menjadi busa
perbincangan. Tidak setelah ada kepastian, misalnya pernikahan. Gosip
Anang- Ashanty sekarang ini berhenti. Sampai ada peristiwa lain yang tak
dikehendaki. Masih akan begitu karena bagi newstainment tetap berlaku
bad news is good news, heboh asmara adalah berita,sementara kerukunan
rumah tangga adalah berita basi.

Inilah yang dimanfaatkan dengan jitu oleh Syahrini dengan munculnya
Bubu. Berbeda banget dengan apa yang dialami penyanyi Nia Daniati—
dengan pria Malaysia,atau juga Ibu Megawati—dengan pria Mesir, dengan
positioning sang pria dengan cara yang kurang lebih sama. Kali ini
Syahrani-Bubu bisa saja saling memanfaatkan atau saling memaafkan.

Industri-Karakter

Yang lebih menarik dipersoalkan adalah sisi beda antara popularitas
seseorang dan prestasi yang membuatnya populer. Demikian tipis, tapi
bisa membedakan secara luas dan dalam. Kalau ini dikaitkan keterlibatan—
atau dilibatkannya artis, atau sengaja melibatkan diri— artis
yangpopulerdalampemilihan umum.Baik tingkat kota-kabupaten atau tingkat
nasional. Kadang menggelikan, bahkan bagi yang tak biasa geli,ketika
wacana Jupe menjadi kandidat bupati Pacitan—yang mungkin tak dikenali
secara geografis.

Atau contoh lain dari penyanyi dangdut. Atau, ah sudahlah. Tidak selalu
mereka yang dikenal sebagai artis lebih buruk dari yang kemudian juga
terbukti tidak mampu-mampu banget. Itu semua adalah penilaian the day
after, sesudah peristiwa, karena yang penting bagi artis selebritas
adalah berhasil mencapainya. Apa yang dilakukan, atau tidak
dilakukan,para artis yang menjadi wakil rakyat membuktikan itu.

Bahwa yang penting masuk ke Senayan sebagai wakil rakyat yang terhormat.
Komentar miring atau bahkan komentar rebah tak mengubah keberadaannya.
Ini semua terjadi karena pengaruh tata nilai dan tata karma yang berlaku
dalam dunia industri. Industrialisasi lebih—atau malah hanya—
mengedepankan penyeragaman, bukan memperhitungkan pribadi atau karakter
seseorang.

Kuantitas adalah nilai yang diperhitungkan, diperbandingkan, bukan
kualitas. Industri mengaburkan karakter yang cemerlang sebagai satuan
dengan sosok lain yang biasa-biasa atau kurang.Industri memberi dan
membuat peta popularitas, berapa banyak yang menonton siapa. Berapa
banyak ini tak dibedakan antara preman atau majikan, sarjana atau buta
huruf, pejalan kaki atau penabrak, dan sebagainya.

Yang semua diseragamkan menjadi satu bagian yang sama dengan yang lain,
dalam menonton acara.Begitulah popularitas seseorang atau sesuatu
diciptakan. Kritis atas penghargaan pada prestasi, krisis atas munculnya
karakter yang beragam, agaknya lebih memerlukan perhatian dan
keterpihakan dalam strategi pendewasaan masyarakat secara keseluruhan.
Inilah yang lebih kita butuhkan ketika membaca kisah- kisah Syahrini,
atau Julia Perez, atau Dewi Persik, atau syahwatwan– syahwati,yang bisa
datang dan pergi.

Tanpa itu, kita akan ikut mabuk dengan busa-busa yang berlebihan. Karena
pada saat mabuk kita tak bisa membedakan popularitas dengan prestasi,
kualitas dengan kuantitas, yang pada akhirnya tak bisa membedakan benar
atau ngawur.● ARSWENDO ATMOWILOTO Budayawan


http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/498051/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment