Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua PDF Print
Saturday, 26 May 2012
WAKIL Ketua DPR Priyo Budi Santoso menerima Duta Besar Amerika Serikat
Scot Marciel dalam kunjungan kehormatan di Gedung DPR RI, Rabu, 23 Mei.
Kunjungan ini sebagai penegasan apresiasi Pemerintah dan Kongres AS
pasca kunjungan diplomatik Kaukus Indonesia- AS DPR RI ke Washington
D.C. beberapa waktu lalu.
Dubes Scot Marciel juga menyatakan, bahwa kunjungan delegasi DPR RI
tersebut adalah salah satu kunjungan yang sangat produktif sepanjang
sejarah hubungan antara parlemen Indonesia dan Kongres AS.
Sementara itu Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, bahwa salah
satu raihan yang menggembirakan dalam kunjungan Kaukus ke Washington DC
adalah komitmen tegas anggota Kongres AS dan Pemerintah AS atas kesatuan
wilayah Indonesia dan penegasan pengakuan bahwa Papua adalah bagian
integral dari wilayah RI.
Kaukus Indonesia-AS DPR RI yang didirikan pada 28 Maret 2012 dan
beranggotakan 40 orang anggota telah melakukan kunjungan ke Washington
DC pada 23-29 April 2012 atas undangan Kongres AS.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Kaukus DPR RI-AS dipimpin oleh Priyo
Budi Santoso sebagai Ketua Kaukus sekaligus Ketua Delegasi dengan
anggota Teguh Juwarno (FPAN), Bobby Rizaldi (FPG), Didi Irawadi
Syamsudin (FPD), Eva Kusuma Sundari (FPDIP), Ahmad Yani (FPPP), Edhy
Prabowo (Gerindra),Akbar Faizal (Hanura) dan Peggy Patrisia Pattipi (FKB).
Dengan total 15 agenda pertemuan selama 5 hari di Washington D.C.,
delegasi Kaukus Indonesia- AS DPR RI melakukan pertemuan dengan Senator
Jim Webb (Ketua Komisi Luar Negeri Senat), David Dreier (Ketua House
Democracy Partnership), Jim McDermott (Ketua Kaukus Indonesia di Kongres
AS), Maria Otero (Wakil Menlu AS), Kurt Campbell (Asisten Menlu Urusan
Asia Pasifik), Daniel Russel (Asisten Khusus Presiden Obama), Collin
Willet (pejabat senior Dewan Keamanan Nasional),Dubes AS untuk APEC,
Dubes AS untuk Myanmar, Direktur Congressional Research Service,
Direktur USAID Wilayah Asia, USINDO dan Perwakilan U.S. – ASEAN Business
Council serta melakukan kunjungan ke markas Voice of America.
Dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat penting AS ini, delegasi Kaukus
didampingi oleh Dubes Indonesia untuk AS,Dino Patti Jalal. Sepanjang
kunjungan tersebut, delegasi Kaukus menyampaikan penjelasan menyeluruh
tentang perkembangan demokratisasi yang hebat di Indonesia.
" Indonesia kini hadir sebagai ujung terdepan negara yang paling
demokratis di jagad ini. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga,
Indonesia mampu menyelaraskan demokrasi secara harmonis dengan
nilai-nilai agama dan budaya lokal", kata Priyo Budi Santoso saat
berpidato di USINDO.
Bahkan, dalam hal tingkat partisipasi politik saat pemilu dan peranan
perempuan di dalam proses politik, Indonesia telah mempraktikkan jauh
lebih maju dari demokrasi AS sendiri, tambah anggota Kaukus Eva Kusuma
Sundari. Ditegaskan pula oleh Teguh Juwarno tentang peran penting
Indonesia dan posisi geopolitik yang strategis dalam perkembangan global
termasuk munculnya kekuatan ekonomi baru di Asia yang dipimpin China.
Saat bertemu dengan Congressman Eni Faleomavaega yang dikenal sangat
vokal tentang Indonesia khususnya masalah Papua, Akbar Faisal dan Peggy
Pattipi menyampaikan berbagai aspek kemajuan dalam penanganan masalah
Papua dengan diberlakukannya UU Otonom Khusus Papua.
Namun, ditekankan pula tentang dinamika unik di dalam masyarakat Papua
itu sendiri, termasuk juga keberadaan Freeport yang sering dirundung
berbagai masalah. Delegasi Kaukus juga menegaskan perlunya Pemerintah RI
dan Freeport membahas kembali dan mengkaji ulang kontrak karya atas
dasar keadilan dan kebersamaan, bukan semangat penghisapan sebagaimana
sering teropinikan.
Congressman Eni Faleomavaega mempunyai pandangan yang sama tentang
Papua. Bahkan ia menegaskan komitmennya untuk tidak lagi mendukung
kemerdekaan Papua dan menghormati kesatuan wilayah Indonesia. Selain
masalah Papua, delegasi Kaukus juga membahas hubungan kerjasama ekonomi
kedua negara.
Kaukus dan Kongres serta Pemerintah AS sepakat bahwa transaksi
perdagangan kedua negara harus lebih ditingkatkan dengan meminimalisir
kendala ekspor impor kedua negara dengan tentunya memperhatikan
kepentingan nasional masing-masing negara.Tentang keberadaan proses
pembentukan free trade yang sedang diupayakan oleh ASEAN dan AS, anggota
Kaukus Bobby Rizaldi berpendapat agar mekanisme free trade tidak
mengenyampingkan esensi fair trade di dalam implementasinya.
Dengan model diplomasi yang khas parlemen, delegasi Kaukus berhasil
mendorong upaya kerjasama yang lebih erat dengan Kongres AS. Di dalam
konteks kerjasama dengan House Democracy Partnership, Kaukus mendorong
upaya peningkatan kemitraan dalam hal capacity building keparlemenan
antara lain dalam hal pertukaran staf ahli, join website, join riset,
dan partisipasi pada workshopworkshop keparlemenan.
Delegasi Kaukus juga mematangkan kerjasama dengan mitranya di Kongres AS
dimana kedua Kaukus berharap dapat segera menandatangani sebuah dokumen
kemitraan yang secara jelas memformulasikan kerjasama kongkrit kedua Kaukus.
Delegasi Kaukus secara komprehensif juga menyampaikan visi untuk merajut
peta jalan terbentuknya Indonesia-U.S.Legislative Strategic Partnership
sebagai bentuk sinerjitas dari U.S. - Indonesian Comprehensive
Partnership yang telah terlebih dahulu ditandatangani oleh Presiden
Yudhoyono dan Presiden Obama pada 2010 di Jakarta. TP
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/498081/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] Kongres dan Pemerintah AS Menolak Kemerdekaan Papua
Info Post
0 comments:
Post a Comment