MANUFACTURING HOPE 28
Plok Plok Plok di Istana Jogja
Oleh Dahlan Iskan, Menteri BUMN
Senin, 28 Mei 2012 , 09:03:00 WIB
RMOL.Belum pernah soal mobil listrik dibahas seserius ini. Serius
pembahasannya, tinggi level yang membahasnya, dan Presiden SBY sendiri
inisiatornya. Bahkan beliau sendiri pula yang memimpin rapatnya. Ini
terjadi Jumat sore lalu di Istana Negara Jogjakarta. Lebih separo
menteri anggota kabinet hadir. Semua rektor perguruan tinggi terkemuka
diundang: UI, ITB, ITS, UNS, UGM, dan lain-lain. Para rektor itulah yang
menyiapkan presentasi hasil kajiannya. Saya sendiri menghadirkan Pendawa
Putra Petir yang kini sedang menyiapkan prototipe mobil listrik nasional.
Para rektor itu, di bawah koordinasi Mendikbud Muhammad Nuh dan
Menristek Gusti Muhammad Hatta, secara mengejutkan menyajikan hasil
kajian akademik yang sangat lengkap dan mendalam. Padahal Presiden SBY
hanya memberi waktu 2,5 bulan kepada mereka.
Presiden memang pernah mengundang para rektor itu ke Istana Jakarta.
Untuk meminta pandangan mereka mengenai realistis tidaknya mobil listrik
nasional.Presiden lantas minta kajian akademiknya. Waktu 2,5 bulan
ternyata cukup untuk mereka.
Karena itu saat Presiden menagih yang ditagih begitu siapnya. Rupanya
Presiden dan para rektor samasama semangatnya. Ini seperti tumbu ketemu
tutupnya, Anang ketemu Ashantinya!
Ini juga menunjukkan bahwa dunia perguruan tinggi sebenarnya sudah lama
memendam kesumat: melahirkan sesuatu yang bersejarah oleh kemampuan
intelektual bangsa sendiri. Bahwa konsep itu bisa lahir begitu cepat
pada dasarnya juga karena dunia perguruan tinggi sudah lama melakukan
kajian, riset, dan ujicoba yang mendalam.
Para mahasiswa pun sudah bisa membuatnya. Saya sudah mencoba yang
buatan mahasiswa ITS, ITB, atau pun mahasiswa UGM. Sudah bertahun-tahun
mereka memendam harapan: kapan hasil riset itu tidak sekadar berhenti
sampai di peti. Mereka sudah lama mimpi kapan hasil kajian itu menjadi
karya nyata untuk bangsa. Bahkan mereka pernah curiga jangan-jangan
kepentingan bisnis besarlah yang membunuh bayi mereka sejak masih di
dalam kandungannya.
Maka begitu Presiden SBY memberikan sinyal yang kuat untuk lahirnya
mobil listrik nasional ini, para rektor menyala seperti bensin
menyambar bara yang menganga. "Kami sampai kurang tidur dan tidak sempat
mengajar," ujar Doktor elektro UGM yang terlibat penyiapan konsep itu.
Presiden SBY kelihatan amat puas mendengarkan presentasi Mendikbud dan
Rektor UGM yang mewakili para rektor semua. Presiden juga memberikan
komitmen yang kuat untuk kelanjutan proyek ini. Para rektor bertepuk
tangan berkali-kali.
Kesimpulan paparan akademik para rektor tersebut adalah: kelahiran
mobil lisrik adalah suatu keharusan. Kata "keharusan" itu ditulis
dengan huruf besar semua. Itu menandakan keniscayaannya. Sedang saat
yang tepat untuk melahirkannya, kata kesimpulan itu: sekarang juga.
Kata "sekarang" itu juga ditulis dengan huruf besar menandakan jangan
sampai kita mengabaikan momentum.
Terlambat merealisasikannya, kata para rektor, hanya akan membuat
Indonesia mengulangi sejarah buruk kita di masa lalu: jadi pasar empuk
semata. Kita akan gigit jari untuk kesekian kalinya.
"Secara teknologi, SDM, pasar, dan industrial kita mampu melakukannya,"
ujar Prof Dr Agus Darmadi, guru besar elektro UGM yang mewakili para
rektor menyampaikan presentasi.
Paparan para rektor itu tecermin juga dalam paparan tim Pendawa Putra
Petir yang dihadirkan setelah itu. Yakni lima putra bangsa yang siap
merealisasikannya. Lima orang ini merupakan hasil seleksi dari lebih
seribu orang yang mendukung lahirnya mobil listrik nasional. Lima orang
inilah yang memenuhi tiga syarat utama sekaligus: kemampuan akademik,
pengalaman industri, dan passion untuk mewujudkannya.
Dasep Ahmadi, engineer lulusan ITB dan pendidikan luar negeri sudah
lama berada di industri mobil. Kini Dasep mampu memproduksi mesin
presisi dan berhasil mengekspornya. Kalau sudah bisa membuat mesin
presisi, semua mesin menjadi mudah baginya. Dasep kini lagi
menyelesaikan tiga prototipe city electric car. Sudah hampir jadi.
Sebulan lagi sudah bisa dikendarai. Bentuknya yang sudah kelihatan,
mirip Avanza. Sudah dua kali saya mengunjungi workshopnya.
Danet Suryatama, engineer lulusan ITS dengan gelar doktor dari Michigan
USA, sudah lebih 10 tahun menjadi engineer di pabrik mobil AS. Saat
pertemuan dengan Presiden SBY itu, Danet baru tiba dari USA. Masih belum
mandi. Hampir saja tidak sempat hadir. Pesawatnya dari AS terlambat
berangkat.
Saya sudah sekali mengunjungi workshop di Jogja yang akan mengerjakan
mobil listriknya. Danet menyiapkan prototipe mobil listrik kelas
mewah. "Agar jangan ada anggapan mobil listrik itu ecek-ecek,"
katanya. Desain mobilnya, yang hanya boleh ditayangkan amat sekilas,
membuat penggemar Ferari bisa iri. Dua bulan lagi mobil ini jadi.
Danet sudah siap pulang ke tanah air untuk mengabdikan diri bagi bangsa
sendiri. Sudah 20 tahun dia berkarya untuk Amerika. Kini, ibunya yang
kelahiran Pacitan, seperti memanggilnya pulang.
Ravi Desai, lahir dan lulusan Gujarat. Ravi ahli dalam energi dan
menekuni konversi energi. Ravi kini menyelesaikan konversi mobil lama
yang ingin diubah menjadi mobil listrik. Saat meninjau proyeknya di
Serpong minggu lalu, saya lihat ada dua sedan Timor di situ. Timor
itulah yang dicopot mesinnya diganti motor listrik. Dua bulan lagi
Timor baru itu sudah bisa meluncur di jalan raya.
Mario Rivaldi, spesialis sepeda motor listrik. Lulusan Inggris dan
Jerman yang pernah kuliah di ITB ini bukan baru membuat, tapi sudah
membuat. Bahkan sepeda motornya sudah lolos uji sertifikasi dan sudah
dipatenkan. Mario tidak mau karyanya ini disamakan dengan motor listrik
dari Tiongkok yang kini beredar di Indonesia. Kelas motornya yang akan
diberi merek Abyor itu jauh di atas yang ada.
Tentu karya keempat engineer itu tidak akan bisa disebut mobil listrik
nasional kalau komponen buatan dalam negerinya tidak memadai. Itulah
sebabnya diperlukan si bungsu dari Pendawa: umurnya masih sangat
muda (termuda di antara sang Pendawa) tapi namanya masih harus
dirahasiakan. Waktu diminta oleh Bapak Presiden SBY untuk bicara, dia
juga hanya bicara seperlunya.
Anak Padang ini ahli membuat komponen motor. Dia sudah punya belasan
paten motor di luar negeri. Dia juga bersedia pulang. Untuk menjadi
pelopor industri komponen motor di dalam negeri. Sudah 14 tahun dia di
negara maju, kini saatnya dia kembali. Semangatnya untuk mengabdi pada
bangsa sendiri ternyata begitu tinggi.
"Dalam satu mobil," kata sang Sadewa ini, "diperlukan 150 motor". Kalau
satu juta mobil diperlukan 150 juta motor. Semuanya impor. Satu pabrik
gula besar bisa memerlukan 1.000 motor. Apa saja, memerlukan motor. Tapi
kita belum bisa membuatnya.
Sadewa dari Sumbar inilah yang akan mengubahnya. Kini dia sedang
membentuk tim yang kuat. Dia akan keliling perguruan tinggi mencari
tenaga yang handal untuk menjadi timnya. Dalam tiga bulan ke depan
prototipe motornya akan lahir di Bandung. Tentu Sadewa akan
memprioritaskan motor untuk mobil listrik nasional lebih dulu.
Melihat tekad putra-putra bangsa itu Presiden SBY tidak bisa
menyembunyikan keterharuannya. Wajah, mimik dan kata-kata Presiden
membuat suasana pertemuan sore itu campur aduk: haru dan bangga!
Presiden memberikan dukungan penuh pada lahirnya babak baru ini.
Misalnya dukungan regulasi dan insentif. Menperin MS Hidayat juga
sangat bersemangat. Ia komit memberi dukungan yang diperlukan.
Lantas, kata penutup dari Presiden SBY dalam pertemuan itu seperti sapu
jagad: dalam tiga bulan ke depan konsep regulasi yang diperlukan berikut
insentif yang diinginkan sudah harus berhasil dirumuskan. Dan Presiden
SBY akan menagihnya. Tepuk tangan pun menggemuruh: plok-plok-plok!
http://www.rmol.co/read/2012/05/28/65263/Plok-Plok-Plok-di-Istana-Jogja-
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] Dahlan Iskan: Plok Plok Plok di Istana Jogja
Info Post
0 comments:
Post a Comment