Kecelakaan Penerbangan-Usut Tragedi Sukhoi, DPR Bentuk Panja PDF Print
Tuesday, 29 May 2012
JAKARTA– DPR mengusulkan membentuk panitia kerja (panja) untuk mengusut
kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak,Kabupaten
Bogor,Rabu (9/5) silam.
DPR menilai banyak kejanggalan seputar kedatangan pesawat komersial
Rusia tersebut, terutama soal perizinan. Anggota Komisi V DPR dari
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Lazarus
mengungkapkan,untuk menuntaskan masalah kecelakaan Sukhoi tidak cukup
dengan mengadakan rapat dengar pendapat." Harus ada panja.Rapat tidak
akan menuntaskan masalah ini,"kata Lazarus dalam rapat dengar pendapat
di Gedung DPR,Senayan,kemarin.
Anggota Komisi V dari Fraksi Partai Amanat Nasional Teguh Juwarno
melihat ada yang aneh dalam penerbangan demonstrasi untuk promosi (joy
flight) SSJ-100. Menurut dia, izin penerbangan yang disetujui untuk
penerbangan tersebut adalah pesawat Sukhoi jenis 97005,bukan Sukhoi
jenis 97004 yang akhirnya celaka di Gunung Salak."Kita akan buat panja
navigasi udara.Amanah ini harusnya sudah dilakukan sebab ini perintah
undang-undang," katanya.
Sementara itu,PT Trimarga Rekatama sebagai perwakilan Sukhoi Civil
Aricraft mengaku tidak mengurus izin masuk dan izin terbang pesawat
SSJ-100. "Trimarga adalah agen pabrikan Sukhoi di Indonesia,jadi hanya
perwakilan lokal. Sedangkan legalitas izin masuk pesawat dilaksanakan
oleh PT Indoasia Ground Utama yang ditunjuk langsung oleh Sukhoi," kata
Konsultan PT Trimarga Rekatama Sunaryo.
Pesawat SSJ-100 menghantam tebing Gunung Salak dan menewaskan 45
penumpangnya, (9/5). SSJ-100 merupakan pesawat komersial pertama buatan
Sukhoi, perusahaan yang dikenal andal melahirkan jet tempur. Hingga kini
penyebab jatuhnya pesawat belum diketahui. Meski kotak hitam pesawat
telah ditemukan, flight data recorder masih dalam pencarian. Hal ini
sempat memunculkan berbagai spekulasi.
Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Marwan Jafar
kemarin menyatakan,Rusia telah melayangkan surat yang berisi keberatan
mengenai pernyataannya tentang Sukhoi yang tidak terekomendasi sebagai
pesawat komersial. Padahal, kata dia, ada pernyataannya yang terpotong
sehingga berbeda dalam pemberitaan.
Menurut Marwan, yang sebenarnya dia katakan adalah Sukhoi belum
berpengalaman menerbangkan pesawat komersial karena selama ini dikenal
sebagai pabrikan pesawat tempur.Karena itu,Sukhoi harus berhati-hati,
terutama jika mengambil rute di Indonesia bagian timur karena medannya
yang jauh lebih berat dibanding di Indonesia bagian barat. "Itu yang
saya katakan, tetapi pernyataan itu terpotong di media,"ungkapnya. Jasad
Ditemukan
Belasan warga Kecamatan Cicurug,Kabupaten Sukabumi menemukan jasad utuh
dan serpihan tubuh yang diperkirakan korban kecelakaan SSJ- 100.Jasad
dan potongan tubuh itu ditemukan di berapa lokasi terpisah dalam radius
500-700 meter dari titik jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak I.
"Untuk jasad yang masih utuh kami temukan dalam kondisi terkubur
longsoran tanah," ungkap Junaidi Abdullah, salah satu warga. nelly
marlianti/ toni kamajaya
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/498803/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] Kecelakaan Penerbangan-Usut Tragedi Sukhoi, DPR Bentuk Panja
Info Post
0 comments:
Post a Comment