Penyebab Tidak Tuntasnya Konflik Papua
Ada empat isu utama mengapa konflik Papua tidak kunjung usai.
Selasa, 29 Mei 2012, 06:50 WIB
Denny Armandhanu
VIVAnews - Konflik di Papua terus terjadi dengan masih berjatuhannya
korban dari kalangan sipil dan militer. Peneliti Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Papua, Adriana Elisabeth,
mengungkapkan adanya empat isu utama mengapa konflik di Papua tidak
kunjung usai.
"Ada empat isu utama, yaitu marjinalisasi dan diskriminasi, kegagalan
pembangunan, kekerasan negara dan pelanggaran HAM, sejarah dan status
politik. Itu semua potret umum, mau bicara apapun di Papua, empat itu
pasti ada," kata Elisabeth yang ditemui VIVAnews di Jakarta, Senin 28
Mei 2012.
Sebelumnya LIPI pernah menerbitkan sebuah buku berjudul "Papua Roadmap:
Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future"
pada 2008. Buku tersebut memuat resolusi Papua oleh LIPI berdasarkan
penelitian selama tiga tahun.
Adriana mengatakan bahwa tahun ini, LIPI memfokuskan diri dalam mencari
solusi pembangunan di provinsi paling timur Indonesia tersebut.
Menurutnya, program kesejahteraan masyarakat di Papua belum merata.
Program pemerintah yang sudah ada dan memakan banyak dana belum berhasil
menyejahterakan rakyat Papua secara keseluruhan.
Menurutnya, ketidakberhasilan program pemerintah di wilayah tersebut
karena Papua dan Jakarta tidak merasa satu jalan, ada rasa keterasingan.
Warga merasa Jakarta hanya memindahkan pembangunan ke Papua, tapi bukan
untuk rakyat Papua.
"Akhirnya kesenjangan pembangunan masih terus terjadi. Memang tidak
semua orang Papua tidak tertolong, tapi artinya pembangunan yang merata
lebih baik ketimbang melihat pertumbuhan ekonomi yang tinggi," kata Adriana.
Konflik yang terjadi di Papua saat ini, kata Adriana, bukanlah konflik
horizontal, melainkan mutlak konflik vertikal antara pemerintah dan
masyarakat. Kekerasan yang muncul adalah bagian dari tidak
terselesaikannya konflik kedua kubu.
"Penghentian kekerasan itu wajib. Jika tidak dihentikan, apapun yang
terjadi, sekecil apapun isu di Papua akan berubah menjadi isu politik,"
jelasnya.
Solusi Para-para
Adriana mengatakan program pemerintah di Papua harus dibangun untuk
menumbuhkan rasa kepemilikan dari warga. Warga harus dilibatkan. Jika
tidak, maka mereka tidak akan menganggap program itu untuk kesejahteraan
mereka.
Untuk menyelesaikan kekerasan adalah melalui dialog. LIPI, ujarnya,
mengusulkan sebuah dialog antara Jakarta dan Papua. Dialog ini bukanlah
dialog isapan jempol tanpa solusi, melainkan membicarakan agenda
spesifik, seperti ekonomi, politik atau kekerasan.
"Usul dialog itu terinspirasi dari Papua sendiri. Mereka punya budaya
menyelesaikan masalah dengan dialog. Orang pesisir menyebutnya
'para-para' ajang untuk menceritakan apapun yang menjadi kegelisahan.
Pola itu yang kita usulkan," kata Adriana.
Dialog Jakarta-Papua pernah digelar oleh Mantan Presiden BJ Habibie pada
tahun 1999 bersama tim 100 Papua Barat. Namun, menurut Adriana, dialog
tersebut tidak efektif karena lebih seperti pertemuan nasional ketimbang
bertukar pikiran. (eh)
http://us.dunia.vivanews.com/news/read/317937-penyebab-tidak-tuntasnya-konflik-papua
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] Penyebab Tidak Tuntasnya Konflik Papua
Info Post
0 comments:
Post a Comment