Breaking News
Loading...
Thursday, 24 May 2012

Info Post
Ekonomi Keberatan Subsidi PDF Print
Friday, 25 May 2012
Gonjang-ganjing kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah berlalu,
karena sampai akhir tahun sepertinya pemerintah tidak akan bisa
menaikkan harga BBM.Padahal, besarnya subsidi BBM dibatasi oleh APBN,
demikian juga defisit APBN juga sudah ditentukan.

Pemerintah memiliki anggaran yang terbatas untuk dialokasikan bagi
subsidi BBM, padahal harga BBM tidak dapat dinaikkan. Sekarang ini
gonjang-ganjingnya tentang bagaimana kekurangan subsidi dapat ditutup,
sehingga perdebatan mekanisme pembatasan pembelian BBM bersubsidi
menjadi topik berbagai diskusi akhir-akhir ini. Apa pun kebijakan yang
diambil, yang jelas pemerintah tidak akan dapat menaikkan harga BBM
bersubsidi hingga akhir tahun 2012.

Padahal, defisit APBN dan besaran subsidi BBM sudah dipatok, dan
pembelian BBM bersubsidi oleh masyarakat masih terus meningkat, sehingga
manuver yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah pembatasan pembelian
BBM bersubsidi oleh masyarakat, menggunakan anggaran lainnya untuk
menutup kekurangan subsidi BBM dengan persetujuan DPR, membeli BBM dari
sumbernya agar lebih murah, dan/ atau meningkatkan program konversi ke
gas atau sumber energi lainnya.

Apa pun yang dilakukan pemerintah tetap tidak mudah dan berdampak pada
masyarakat secara langsung ataupun tidak langsung. Pilihan yang tersedia
bagi pemerintah memang terbatas, harga BBM internasional yang cenderung
menurun, membuat beban pemerintah berkurang. Namun di sisi lain, lifting
minyak bumi mentah yang ternyata sekitar 10% di bawah asumsi APBN
memberikan tekanan yang besar pada sisi penerimaan negara juga.

Secara umum,beban anggaran ataupun subsidi BBM akan semakin berat.Hal
ini akan membuat kemampuan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran
untuk berbagai kepentingan lainnya, termasuk mengantisipasi ancaman
krisis ekonomi Eropa semakin berkurang.

Stimulus Fiskal Sulit?

Dampak krisis ekonomi Eropa mulai terasa di Indonesia, sehingga
volatilitas pasar keuangan yang dilihat dari IHSG semakin meningkat,
demikian juga nilai rupiah melemah. Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi
pada kuartal I turun menjadi6,3%,lebihrendahdari laju pertumbuhan
ekonomi 6,5% pada 2011. Padahal, dampak krisis ekonomi Eropa akan
semakin terasa pada beberapa kuartal ke depan, karena sampai sekarang
pun belum jelas solusi bagi permasalahan krisis ekonomi Yunani.

Bahkan, ada kemungkinan Yunani akan keluar dari Euro, yang akan membawa
dampak yang besar pada ekonomi global. Selain itu, laju pertumbuhan
ekonomi China dan India sudah terpangkas. Demikian juga kawasan Eropa
yang tidak tumbuh bisa mengalami kontraksi jika kondisi
memburuk.Akibatnya, ekonomi global sekarang ini menghadapi
ketidakpastian yang besar, volatilitas meningkat, dan risiko semakin besar.

Indonesia yang dalam ekonomi global merupakan ekonomi kecil dan terbuka
menghadapi ancaman yang lebih besar jika volatilitas ekonomi global
semakin besar.Stabilitas ekonomi makro akan cenderung lebih mudah
terguncang, apalagi dana jangka pendek yang nangkring di Indonesia
besar, membuat volatilitas pasar keuangan semakin besar. Lihat saja IHSG
yang semakin tinggi volatilitasnya dan nilai rupiah yang semakin melemah.

Inflasi tahunan hingga kini masih terjaga di bawah 5%.Namun jika
kebijakan pembatasan BBM bersubsidi dijalankan,inflasi diperkirakan akan
meningkat. Dalam kondisi ekonomi global penuh ketidakpastian pada saat
ini, menjaga stabilitas ekonomi makro semakin tidak mudah. Padahal,
instabilitas ekonomi makro akan berdampak negatif pada laju pertumbuhan
ekonomi. Selain itu, melemahnya pertumbuhan ekonomi negara -negara
tujuan ekspor kita juga akan melemahkan pertumbuhan ekonomi kita.

Oleh karena itu, tekanan pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal
mendatang akan meningkat, paling tidak pada kuartal I/2012 ini saja laju
pertumbuhan ekonomi sudah turun. Merosotnya pertumbuhan ekonomi akan
membuat lapangan kerja yang tercipta juga semakin mengecil. Ancaman
volatilitas ekonomi makro dan pelemahan pertumbuhan ekonomi tersebut
harus diantisipasi agar dampaknya dapat diminimalisasi.

Namun, itu semua perlu anggaran ataupun dana yang besar.Ingat pada 2009
yang lalu Indonesia dan mayoritas negara di dunia menyediakan stimulus
fiskal dan juga ekspansi moneter serta menjaga stabilitas pasar keuangan
ataupun ekonomi makro dengan biaya yang mahal. Karena itu, dampak krisis
finansial global di Indonesia minimal. Saat ini Indonesia mestinya juga
melakukan hal yang sama, agar dampak dari krisis ekonomi Eropa dapat
diminimalisasi.

Sayangnya, kemampuan fiskal untuk memberikan stimulus fiskal ataupun
menopang stabilitas ekonomi makro semakin terbatas.Apalagi jika subsidi
BBM dan listrik terus membengkak hingga di atas Rp300 triliun (hampir
20% dari belanja negara), stimulus fiskal jelas tidak akan dapat dilakukan.

Bahkan, untuk menutup membengkaknya subsidi saja pemerintah harus
mengalihkan berbagai pengeluaran lainnya agar defisit APBN tidak
melebihi 2,3% PDB. Indonesia tidak memiliki dana yang memadai seperti
tahun 2009, untuk menghadapi ancaman krisis ekonomi Eropa.

Untuk itu, pemerintah dan DPR perlu kerja lebih keras dengan membuat
prioritas anggaran yang lebih tajam agar keuangan negara lebih dapat
menjaga stabilitas ekonomi makro dan laju pertumbuhan ekonomi tidak
banyak terpangkas. ● DR SRI ADININGSIH Ekonom Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/497789/

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment