TAJUK, Hilangnya Kebanggaan PDF Print
Friday, 25 May 2012
Prestasi bulutangkis Indonesia berada di titik nadir terendah. Dalam
pertandingan Piala Thomas dan Uber yang digelar di Wuhan Sport Complex
Gymnasium,China,tim Thomas dan Uber Indonesia harus tersingkir dari
perempatan final.
Indonesia bukan dikalahkan China,Korea Selatan,Malaysia,atau Denmark
yang selama ini menjadi seteru abadi,melainkan oleh Jepang yang notabene
level masih di bawah tim Indonesia. Lebih memprihatinkan,untuk tim
Thomas,kekalahan tersebut sekaligus menjadi rekor terburuk sepanjang
sejarah Republik ini mengikuti event bulutangkis terakbar tersebut.
Untuk diketahui, sejak mengikuti Piala Thomas dan Uber Singapura pada
1958,tim Thomas Indonesia langsung membawa pulang Piala Thomas ke Tanah
Air. Sejak saat itu, Indonesia langganan juara hingga berhasil
mengakumulasi 13 Piala Thomas. Semua prestasi tersebut kini tinggal
memori.Sudah lama bangsa ini tidak berpesta menyambut kemenangan tim
yang dibanggakannya, sejak terakhir Tim Thomas berhasil menjadi juara
pada 2002.
Sudah lama bangsa ini tidak memperbincangkan nama pemain kebanggaannya,
seperti Muljadi,Rudy Hartono,Liem Swie King,Icuk Sugiarto, Alan Budi
Kusuma, atau Taufik Hidayat saat berada di puncak prestasinya. Keringnya
prestasi dan kekalahan demi kekalahan yang diterima tim dan pemain
bulutangkis,lambat laun mengikis rasa kebanggaan masyarakat terhadap
cabang olahraga ini.Hal ini tentu menyedihkan sekali,karena tidak ada
cabang olahraga di Tanah Air yang mampu mengaduk-aduk emosi
masyarakat,sekaligus memberi kegembiraan dalam kurun waktu yang sangat
lama kecuali bulutangkis.
Lantas, mengapa prestasi olahraga kebanggaan bangsa ini pudar? Apa yang
salah? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan bagaimana memori kejayaan
bisa diraih kembali? Mengapa kepengurusan silih berganti, tetapi tetap
saja tak mampu mendulang prestasi? Apakah pola pembinaan tidak
komprehensif, atau apakah kita tidak lagi memiliki bibit unggul yang
bisa bersaing dengan pemain negara lain?
Ibarat mengurai benang kusut, sangat sulit mencari di mana pangkal
persoalan terpuruknya prestasi bulu tangkis Indonesia. Namun,Persatuan
Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus realistis untuk tidak lagi
mengandalkan Taufik Hidayat yang sudah semakin menurun fisik dan
kecepatannya.Di sisi lain,PBSI harus mampu menjaring bakat-bakat baru
yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.
Kata kunci dua hal tersebut adalah regenerasi.Pascakejayaan Taufik
Hidayat,misalnya, tidak ada pemain tunggal yang menjadi legenda.Sony Dwi
Kuncoro dan Simon Santoso yang sebenarnya menjadi tumpuan,tidak mampu
menunjukkan prestasi maksimal.Begitu pun pemain tunggal wanita,ganda
pria/wanita,dan ganda campuran, prestasi stagnan dibandingkan
perkembangan di negara lain. Indonesia pasti tidak kekurangan
bibit-bibit muda potensial.
Mereka tersebar di sudut kampung maupun kota atau di sekolahsekolah.
Persoalannya, bagaimana potensi itu bisa ditangkap dan dibina hingga
menjadi pemain profesional. Selanjutnya,tentu yang harus dibenahi adalah
sistem pembinaannya,yang meliputi kompetisi ataupun pembinaan atlet di
pemusatan Cipayung.Pembinaan bukanhanya persoalan teknis,melainkan juga
fisik dan mental yang selama ini sering menjadi kendala pemain Indonesia.
Siapa yang harus memikirkan semua itu? Tentu bukan hanya tanggung jawab
PBSI,namun juga membutuhkan peran swasta dan pemerintah. Evaluasi
pembinaan secara menyeluruh juga harus menjadikan semangat nasionalisme
sebagai bagian terpenting.Mengapa? Semua pemain harus memahami bahwa
bulutangkis bukan sekadar olahraga biasa,melainkan olahraga kebanggaan
bangsa.
Karena itu, semangat yang dibawa bertanding bukanlah hanya untuk
mendapat piagam atau uang,namun mengharumkan nama bangsa.Menyalanya
semangat nasionalisme tentu akan menjadi energi besar untuk memenangkan
setiap pertandingan.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/497790/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] TAJUK, Hilangnya Kebanggaan
Info Post
0 comments:
Post a Comment