Breaking News
Loading...
Friday, 25 May 2012

Info Post
Pandangan baru tentang Muslim dan sekularisme di Inggris
oleh Tehmina Kazi
25 Mei 2012
London – Belakangan ini, debat tentang sekularisme di Inggris semakin
mengemuka, khususnya setelah ramai dibicarakannya kasus seorang
perempuan Kristen, Nadia Eweida, yang diminta menutupi salib yang ia
kenakan ketika bekerja di British Airways. Walikota London yang baru
terpilih, Boris Johnson, membela hak Eweida untuk mengenakannya, dengan
memberi contoh-contoh lain tentang ekspresi keberagamaan di ruang
publik. Namun, kisahnya telah berbuntut perdebatan sengit antara
orang-orang yang merasa berhak mengenakan simbol-simbol agama di ruang
publik dan orang-orang yang mendukung pemisahan ketat antara agama dan
ruang publik.

Misalnya, beberapa orang Inggris menganggap Muslim di Inggris
mengupayakan peran yang lebih besar bagi agama di ruang publik. Namun,
dalam konteks perdebatan tentang sekularisme sekarang, penting untuk
menekankan bahwa banyak Muslim sebenarnya tidak melihat kontradiksi
antara nilai-nilai agama dan kerangka dari prosedur dan institusi
sekuler di Inggris.

Inggris sering digambarkan sebagai negara yang menganut "sekularisme
prosedural". Secara teoretis, sekularisme ini memungkinkan semua
pandangan, entah berkaitan dengan agama atau tidak, bisa mengakses ruang
publik secara setara. Dalam Contextualising Islam in Britain, penelitian
Cambridge University yang meminta orang-orang Muslim dari beragam latar
belakang untuk menjawab pertanyaan "apa artinya hidup beragama sebagai
Muslim di Inggris sekarang?" mayoritas mereka menyatakan dukungannya
pada model ini. Mereka menilai sekularisme prosedural memberi banyak
keuntungan bagi orang Inggris Muslim, termasuk kebebasan beragama.

Selaku orang Inggris Muslim, kami bisa mempraktikkan agama kami dalam
suatu atmosfir sikap menghormati dan rasa aman, dan bila ini tak terjadi
kami mempunyai pilihan untuk berlindung pada undang-undang
anti-diskriminasi yang sudah mapan. Banyak kantor kini memiliki ruang
ibadah multi-agama, dan pilihan makanan halal pun tersedia di
kantin-kantin sekolah.

Banyak orang di Inggris melihat perdebatan tentang ekspresi beragama
sebagai perdebatan antara mereka yang mendukung status quo sekularisme
prosedural dan para "sekularis ideologis" yang menolak sekularisme
prosedural dan mengatakan bahwa pandangan-pandangan keagamaan semestinya
dikecualikan atau dikontrol secara ketat di institusi negeri maupun
swasta. Banyak Muslim, juga orang Kristen, di seluruh Inggris telah
mengungkapkan kekhawatiran akan munculnya sekularisme ideologis dan
mencemaskan hak mereka untuk mengekspresikan agama akan dibatasi.

Para pendukung sekularisme ideologis sering kali menyebut peran negatif
agama ketika menyangkut isu-isu seperti hak perempuan sebagai dasar
keberatan mereka untuk membolehkan agama di ruang publik. Ketika para
aktivis agama konservatif bicara tentang hak-hak perempuan dan
menggunakan argumen-argumen agama, ini semakin menguatkan kesalahpahaman
ini.

Namun, tindakan-tindakan ekstrem seperti itu lebih terkait dengan budaya
daripada agama. Misalnya, nikah paksa adalah sebuah praktik budaya yang
negatif. Meskipun diasosiasikan dengan Islam, ini sebenarnya sangat
berseberangan dengan sejarah Islam, yang mencakup contoh bagaimana Nabi
Muhammad sampai membatalkan pernikahan ketika tidak ada kesepakatan yang
dicapai.

Berseberangan dengan banyak wacana media tentang Muslim, penelitian
menunjukkan bahwa mayoritas Muslim Inggris merasa nyaman dengan negara
sekuler prosedural. Contextualising Islam in Britain menunjukkan bahwa
kelompok yang mengemukakan argumen yang sebaliknya merupakan kelompok
pinggiran (Muslim dan non-Muslim) yang tak berkepentingan untuk
mendorong masyarakat yang pluralistik dan kohesif.

Dalam suatu negara sekuler prosedural seperti Inggris, Muslim memiliki
hak dan tanggung jawab yang sejalan dengan ajaran-ajaran Islam. Jauh
dari mendukung penarikan diri dari masyarakat, cendekiawan Islam arus
utama menganggap keterlibatan berwarganegara sangatlah bagus bagi warga
negara Muslim. Menyadari bahwa menjadi seorang Muslim yang taat di
Inggris sekarang ini jugalah berarti sepenuhnya menjalani hidup sebagai
warga negara – dengan segala hak dan tanggung jawab yang menyertainya –
merupakan sebuah langkah penting untuk menjadi warga negara yang
terintegrasi dengan baik di Inggris masa sekarang.

Sejarah Islam memberikan contoh tentang hubungan antara kewarganegaraan
dan agama juga. Imam Abu Ishaq al-Syathibi, seorang ulama Andalusia yang
hidup pada abad ke-14, mengartikulasikan prinsip ini dalam karyanya,
Maqashid al-Syari'ah (Tujuan-Tujuan Syariat). Ia mengaitkan hak warga
negara dan tanggung jawab dalam sebuah negara – termasuk kebebasan
berkeyakinan dan kewajiban melawan tirani – dengan tujuan-tujuan Islam.

Masih banyak yang perlu dilakukan untuk mengangkat ranah pemikiran ini,
dan bagaimana menggunakannya sebagai inspirasi dalam kehidupan Muslim
Inggris pada masa sekarang.

Akhirnya, tidak cuma teori yang akan membantu orang-orang dari berbagai
latar belakang berbeda untuk hidup bersama dalam suatu masyarakat
sekuler. Pemerintah dan organisasi-organisasi sosial di Inggris harus
memunculkan strategi yang bisa berjalan dan sumber daya untuk mendorong
suatu masyarakat yang inklusif dan membantu generasi mendatang, termasuk
anak muda Muslim, mengerti peran mereka di dalamnya.

###

* Tehmina Kazi ialah Direktur British Muslims for Secular Democracy.
Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 25 Mei 2012,
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin publikasi.

http://www.commongroundnews.org/article.php?id=31446&lan=ba&sp=0

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment