Breaking News
Loading...
Monday, 23 April 2012

Info Post
Ekspor Gas Kok Malah Bikin Negara Rugi Rp 183 Triliun
Gas Dijual Murah, Padahal Industri Dalam Negeri Butuh
Selasa, 24 April 2012 , 08:46:00 WIB

RMOL. Ekspor gas yang selama ini dilakukan disinyalir telah merugikan
negara Rp 183 triliun.

"Saat ini orang tidak pernah mem­perhatikan hal tersebut (ke­rugian
ekspor gas), malah fokus pa­da terus turunnya produksi mi­nyak," kata
anggota Badan Pe­ngatur Hilir Minyak dan Gas Bu­mi (BPH Migas) A Qoyum
Tjan­dra­negara di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil hitungannya, setiap satu liter se­tara
premium/solar (LSP) gas bu­mi yang diekspor sebagai gan­tinya dibutuhkan
satu liter bahan ba­kar minyak (BBM). Padahal, har­ga gas bumi
setengahnya har­ga satu liter BBM atau 55 per­sen­nya. Saat ini jumlah
ekspor gas bumi mencapai 800 ribu barel se­tara minyak per hari.

Saat ditanya dari mana mun­culnya angka Rp 183 triliun itu, Qoyum
menjelaskan, produksi gas bumi pada 2011 sebesar 8.430 mmscfd (million
standard cubic feet per day) atau setara dengan BBM 1,5 juta barel/hari.
Sebanyak 53 persennya diekspor yang setara dengan BBM 795.000 barel/hari.

Dengan begitu, dalam 1 tahun ne­gara kehilangan devisa sebesar 795.000
barel x 365 hari x 45 per­sen (selisih harga 1 liter BBM) x 1,4 x 111
dolar AS /barel x Rp 9.000/dolar AS, maka hasilnya adalah Rp 183 triliun.

"Harga gas bumi 55 persen har­ga 1 liter BBM, sehingga untuk mem­beli 1
liter BBM negara ini kehi­langan devisa sebesar 45 per­sen harga 1 liter
BBM," jelasnya.

Dia juga menegaskan data yang dimilikinya bisa diper­tang­gung­jawabkan.
Hingga kini tidak ada pihak yang memprotes hi­tungan­nya itu.

Qoyum mengaku heran dengan kebijakan ekspor gas pemerintah. Ia menilai
kebijakan itu justru akan menguntungkan negara te­tangga yang impor gas
dari In­donesia. Jadi, sangat ironi bila ma­syarakat mesti dibebani
de­ngan energi mahal, yakni BBM.

"Ke depan ekspor gas harus dihindari. Sebab, ini tidak sesuai dengan
amanat Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas, terutama Pasal 8
yang berbunyi pemerintah mem­beri­kan prioritas terhadap peman­faatan
gas bumi untuk kebutuhan da­lam negeri," tegasnya.

Menurut Qoyum, pemerintah tidak perlu takut dibawa ke pe­nga­dilan
arbitrase. Pengadilan in­ter­nasional tidak akan mem­permasalahkan hal
itu jika ada keinginan dari rakyat dan peru­bahan politik di dalam negeri.

"Sekarang kita butuh gas, tapi gas itu banyak diekspor. Masa kita mau
membiarkan perusahaan da­lam negeri mati. Mereka (Ar­bitrase) akan
memahami," jelasnya.

Dia berpendapat, gas yang di­ekspor itu bisa disalurkan untuk ke­butuhan
industri dalam negeri. Un­tuk infrstrukturnya sendiri, se­lama
pemerintah ada kemauan bisa dipenuhi. Bahkan, sepanjang 2006-2009
Indonesia terpaksa kehilangan pemasukan hingga Rp 410,4 triliun.
Rinciannya, keru­gian 2006 tercatat mencapai Rp 91,9 triliun, pada 2007
tercatat Rp 101,2 triliun, 2008 tercatat Rp 140 triliun dan 2009
tercatat Rp77,3 triliun. Total kerugian hingga 2009 tercatat Rp 410,4
triliun.

Pengamat migas Kurtubi me­ngatakan, kerugian penjualan gas itu
dipengaruhi murahnya harga gas bumi yang diekspor ke ne­gara-negara
lain, misalnya gas Tangguh ke China.

Untuk itu, perlu dilakukan investigasi atas kerugian ini. Selain
melakukan investigasi, pemerintah juga harus memper­cepat renegosiasi
harga jual gas yang dinilai merugikan negara.

Hal senada disampaikan Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi
Notonegoro. Dia me­negaskan, kesalahan pemerintah terletak pada harga
jual gas untuk ekspor dibuat flat sehingga ketika harga minyak naik,
harga jual gas tidak ikut naik.

Namun, Badan Pelaksana Ke­giatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
membantah ekspor gas bumi mengakibatkan kerugian negara hingga triliunan
rupiah.

Kepala Divisi Hubungan Ma­syarakat, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas
Gde Pradnyana menga­takan, saat ini rata-rata harga gas pi­pa domestik
dari tahun 2009-2011 berkisar 40-50 persen di­ban­ding harga gas untuk
pasar do­mes­tik, sehingga penerimaan negara dari ekspor gas sangat besar.

"Membandingkan harga jual gas ke internasional dengan harga impor BBM
sangat tidak relevan karena harga gas tidak ada kaitannya dengan impor
BBM. Justru pendapatan negara cukup tinggi dari hasil ekspor gas mulai
tergerus dengan kebutuhan impor BBM yang harus dibeli dengan harga
internasional," tutur Pradnyana. [Harian Rakyat Merdeka]

http://ekbis.rmol.co/read/2012/04/24/61587/Ekspor-Gas-Kok-Malah-Bikin-Negara-Rugi-Rp-183-Triliun-

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment