Gas Dijual Murah, Padahal Industri Dalam Negeri Butuh
Selasa, 24 April 2012 , 08:46:00 WIB
RMOL. Ekspor gas yang selama ini dilakukan disinyalir telah merugikan
negara Rp 183 triliun.
"Saat ini orang tidak pernah memperhatikan hal tersebut (kerugian
ekspor gas), malah fokus pada terus turunnya produksi minyak," kata
anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) A Qoyum
Tjandranegara di Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, berdasarkan hasil hitungannya, setiap satu liter setara
premium/solar (LSP) gas bumi yang diekspor sebagai gantinya dibutuhkan
satu liter bahan bakar minyak (BBM). Padahal, harga gas bumi
setengahnya harga satu liter BBM atau 55 persennya. Saat ini jumlah
ekspor gas bumi mencapai 800 ribu barel setara minyak per hari.
Saat ditanya dari mana munculnya angka Rp 183 triliun itu, Qoyum
menjelaskan, produksi gas bumi pada 2011 sebesar 8.430 mmscfd (million
standard cubic feet per day) atau setara dengan BBM 1,5 juta barel/hari.
Sebanyak 53 persennya diekspor yang setara dengan BBM 795.000 barel/hari.
Dengan begitu, dalam 1 tahun negara kehilangan devisa sebesar 795.000
barel x 365 hari x 45 persen (selisih harga 1 liter BBM) x 1,4 x 111
dolar AS /barel x Rp 9.000/dolar AS, maka hasilnya adalah Rp 183 triliun.
"Harga gas bumi 55 persen harga 1 liter BBM, sehingga untuk membeli 1
liter BBM negara ini kehilangan devisa sebesar 45 persen harga 1 liter
BBM," jelasnya.
Dia juga menegaskan data yang dimilikinya bisa dipertanggungjawabkan.
Hingga kini tidak ada pihak yang memprotes hitungannya itu.
Qoyum mengaku heran dengan kebijakan ekspor gas pemerintah. Ia menilai
kebijakan itu justru akan menguntungkan negara tetangga yang impor gas
dari Indonesia. Jadi, sangat ironi bila masyarakat mesti dibebani
dengan energi mahal, yakni BBM.
"Ke depan ekspor gas harus dihindari. Sebab, ini tidak sesuai dengan
amanat Undang-Undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Migas, terutama Pasal 8
yang berbunyi pemerintah memberikan prioritas terhadap pemanfaatan
gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri," tegasnya.
Menurut Qoyum, pemerintah tidak perlu takut dibawa ke pengadilan
arbitrase. Pengadilan internasional tidak akan mempermasalahkan hal
itu jika ada keinginan dari rakyat dan perubahan politik di dalam negeri.
"Sekarang kita butuh gas, tapi gas itu banyak diekspor. Masa kita mau
membiarkan perusahaan dalam negeri mati. Mereka (Arbitrase) akan
memahami," jelasnya.
Dia berpendapat, gas yang diekspor itu bisa disalurkan untuk kebutuhan
industri dalam negeri. Untuk infrstrukturnya sendiri, selama
pemerintah ada kemauan bisa dipenuhi. Bahkan, sepanjang 2006-2009
Indonesia terpaksa kehilangan pemasukan hingga Rp 410,4 triliun.
Rinciannya, kerugian 2006 tercatat mencapai Rp 91,9 triliun, pada 2007
tercatat Rp 101,2 triliun, 2008 tercatat Rp 140 triliun dan 2009
tercatat Rp77,3 triliun. Total kerugian hingga 2009 tercatat Rp 410,4
triliun.
Pengamat migas Kurtubi mengatakan, kerugian penjualan gas itu
dipengaruhi murahnya harga gas bumi yang diekspor ke negara-negara
lain, misalnya gas Tangguh ke China.
Untuk itu, perlu dilakukan investigasi atas kerugian ini. Selain
melakukan investigasi, pemerintah juga harus mempercepat renegosiasi
harga jual gas yang dinilai merugikan negara.
Hal senada disampaikan Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi
Notonegoro. Dia menegaskan, kesalahan pemerintah terletak pada harga
jual gas untuk ekspor dibuat flat sehingga ketika harga minyak naik,
harga jual gas tidak ikut naik.
Namun, Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
membantah ekspor gas bumi mengakibatkan kerugian negara hingga triliunan
rupiah.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat, Sekuriti, dan Formalitas BP Migas
Gde Pradnyana mengatakan, saat ini rata-rata harga gas pipa domestik
dari tahun 2009-2011 berkisar 40-50 persen dibanding harga gas untuk
pasar domestik, sehingga penerimaan negara dari ekspor gas sangat besar.
"Membandingkan harga jual gas ke internasional dengan harga impor BBM
sangat tidak relevan karena harga gas tidak ada kaitannya dengan impor
BBM. Justru pendapatan negara cukup tinggi dari hasil ekspor gas mulai
tergerus dengan kebutuhan impor BBM yang harus dibeli dengan harga
internasional," tutur Pradnyana. [Harian Rakyat Merdeka]
http://ekbis.rmol.co/read/2012/04/24/61587/Ekspor-Gas-Kok-Malah-Bikin-Negara-Rugi-Rp-183-Triliun-
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
0 comments:
Post a Comment