Breaking News
Loading...
Monday, 23 April 2012

Info Post

Mestinya prajurit tahu bahwa setiap butir peluru yang mereka hamburkan dibeli dengan uang rakyat.''

PIMPINAN TNI dan Polri selalu memamerkan keakraban dan kebersamaan, tetapi di lapisan bawah di tingkat prajurit tersimpan bara. TNI dan Polri, yang mestinya menjadi pelindung dan pengayom, kerap berubah menjadi bagian dari pemantik petaka.

Perkelahian di antara anggota dua institusi pemegang senjata api itu selalu menelan korban. Peluru sering dilepas dan korban berjatuhan.

Itu pula yang terjadi pada Minggu (22/4) di Limboto, Gorontalo.

Perkelahian terjadi antara anggota TNI dari satuan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan anggota Polri dari satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Gorontalo.

Mulanya ada patroli Brimob yang dilempari batu oleh sekelompok orang tidak dikenal. Brimob lalu melakukan penyisiran dan menembak beberapa orang yang diduga terlibat.

Empat anggota TNI terkena tembakan. Adapun dari Bri mob, dua anggota cedera di bagian kepala terkena lemparan batu.

Perkelahian prajurit TNI dan Polri bukan fakta baru dan sering dipicu persoalan sepele.
Misalnya, perebutan lahan parkir, senggolan di jalan, karena polisi memeriksa surat izin mengemudi (SIM) yang pengendaranya anggota TNI, atau karena mabuk-mabukan.

Biasanya, setelah ada perkelahian, pimpinan TNI dan Polri meninjau lokasi kejadian. Itu juga yang terjadi di Gorontalo. Kemarin, Panglima Kostrad Letjen M Munir mengunjungi lokasi didampingi Kapolda Gorontalo Brigjen Irawan Dahlan.
Setelah itu dilakukan pertemuan tertutup.

Kita tentu mengapresiasi kesigapan pimpinan TNI dan Polri. Namun, perkelahian antarpersonel dua institusi itu yang masih berulang menunjukkan akar masalah belum tuntas. Jika sumber masalah tidak dibereskan, perkelahian akan terulang lagi di tempat dan waktu lain.

Bentrokan tersebut umumnya disertai mudahnya prajurit melepaskan tembakan. Hal itu sekaligus menunjukkan prajurit tidak memiliki disiplin yang tinggi.

Padahal, mestinya prajurit TNI dan Polri tahu bahwa setiap butir peluru yang mereka hamburkan dibeli dengan uang rakyat dan bukan untuk digunakan dalam perkelahian.
Lagi pula hanya pengecut yang berkelahi menggunakan senjata.

Kunjungan bersama pimpinan TNI dan Polri memang menunjukkan keakraban, tetapi keakraban semu. Keakraban itu hanya di level perwira dan pemimpin, tidak dirasakan di lapisan bawah di tingkat prajurit.

Perkelahian hanya puncak gunung es yang menyimpan potensi konflik yang lebih besar. Di antaranya menyangkut permasalahan kesejahteraan prajurit, yang harus dicarikan solusi yang jitu oleh semua pemangku kepentingan.

Jangan membiarkan prajurit mencari penyelesaian sendiri dengan senjata. Prajurit yang berkelahi dan melepaskan tembakan serta komandan masing-masing harus ditindak tegas.

Tetapi menghukum tanpa memperhatikan akar masalah, yaitu kesejahteraan mereka, hanyalah memelihara api dalam sekam. Setiap saat bisa membakar.

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/04/24/ArticleHtmls/EDITORIAL-TNI-Vs-Polri-24042012001032.shtml?Mode=1

0 comments:

Post a Comment