REP | 21 March 2012 | 08:59
Sumber foto: http://jakarta.okezone.com/read/2012/03/21/505/597103/jokowi-alex-noerdin-ganjalan-terberat-foke
Kampanye dilakukan untuk meraih simpati dari konstituen. Banyak cara digunakan oleh para kontestan. Ada kontestan yang menggunakan cara sopan tetapi banyak pula kontestan menggunakan cara yang tidak sopan. Bahkan, ada kontestan menggunakan isu SARA untuk mematikan lawannya. Dan itu digunakan oleh calon gubernur DKI dari Partai Demokrat, Fauzi Bowo dan pasangannya. Foke, sapaan akrabnya, menggunakan isu etnis Betawi sebagai corong politik.
Saya terheran-heran membaca berita ini: "Max menilai dari sisi lain seperti etnis, Foke yang mewakili masyarakat Betawi akan meraih dukungan. "Akan lebih menang lagi, persoalaan menang atau tidak itu tergantung konstelasi politik, apalagi dia dari Betawi saya kira Betawi akan dukung 100 persen," jelasnya (Sumber: Solopos)
Saya menangkap ucapan di atas justru merupakan upaya untuk mendeskreditkan etnis atau suku Betawi. Memangnya orang Betawi bodoh sehingga orang Betawi tidak dapat memilih calon pemimpin yang benar-benar brilian, ngayomi, cerdas, visioner, dan merakyat? Orang Betawi itu termasuk suku yang sangat memerhatikan agama, budaya, etika, dan pendidikan.
Setelah lima tahun orang Betawi dipimpin orang yang mengaku Betawi asli, tentunya orang-orang Betawi dapat mengambil simpulan. Apakah yang diberikan sang pemimpinnya? Perubahan kemajuan apa yang diberikan? Apakah masyarakat Betawi menjadi semakin sejahtera ataukah justru masyarakat Betawi menjadi makin sengsara?
Lima tahun Jakarta dipimpin orang yang mengaku orang Betawi asli. Namun, saya tidak melihat perubahan signifikan kecuali kesemrawutan transportasi yang kian menjadi-jadi. Banjir terjadi setiap tahun dengan intensitas yang justru semakin mengkhawatirkan. Tonggak beton cor monorel yang sering makan korban. Atas beragam persoalan itu, konon Presiden SBY bahkan pernah memanggil sang gubernur itu agar lebih memedulikan Jakarta.
Sebagai seorang pendidik, saya sangat menyayangkan ucapan itu. Ucapan itu seyogyanya tidak diucapkan oleh para pembesar negeri. Ucapan itu justru menjadi pemecah belah bangsa ini. Kampong Betawi memerlukan pemimpin yang benar-benar merakyat dan menasional karena kampong Betawi dipilih untuk menjadi ibukota negara.
Justru saya menangkap isyarat bahwa ucapan itu akan menjadi blunder hebat bagi Foke. Tadi pagi, saya pun membaca ucapan Foke di media cetak Solopos. Foke terkesan meremehkan kandidat dari partai lain. Foke suka mengagung-agungkan kebesarannya sebagai bagian dari masyarakat Betawi. Namun, apakah rakyat Betawi dianggap bodoh seraya tidak mengetahui karakter pemimpinnya?
Pemimpin kok ngomong begitu, begitulah batinku berucap. Sebagai pemimpin yang masih aktif memimpin Jakarta, seyogyanya sang pemimpin itu menjaga lisan. Seharusnya sang pemimpin itu menunjukkan karakternya sebagai pemimpin yang santun dan berjiwa besar. Namun, menurutku, Foke justru berlaku sebaliknya: arogan.
Jika ingin menarik simpati, justru sebaiknya Foke menyampaikan ucapan selamat datang kepada para Calon Gubernur DKI. Salaman dan ucapan lembut akan menjadi magnet sebagai gambaran bahwa rakyat Betawi adalah masyarakat yang ramah kepada setiap pendatang. Masyarakat Betawi adalah masyarakat yang menasional dan memerlukan figur pemimpin yang merakyat. Dan bukan pemimpin yang mengobral janji untuk melakukan perubahan. Perubahan apa? Tuh, jalan makin macet, banjir makin tinggi, gelandangan makin merajalela, kemiskinan meningkat, dan tonggak-tonggak beton monorel tak kunjung teratasi. Begitu kok dibanggakan. Apanya yang dibanggakan?
Teriring salam,
0 comments:
Post a Comment