Breaking News
Loading...
Wednesday, 21 March 2012

Info Post


http://birokrasi.kompasiana.com/2012/03/21/the-power-of-amok-dahlan-iskan-ngamuk-semua-beres/
OPINI | 21 March 2012 | 10:28
1332300288181674710
Pak DI kala mengamuk, untung ngamuknya bukan sambil melempari mobil
Orang Inggris pernah kesulitan menerjemahkan kata amuk dalam bahasa mereka. Pasalnya, aktivitas mengamuk dilihat sebagai sesuatu yang aneh. Tidak pernah terjadi dalam sejarah mereka orang bisa berbuat brutal tak terkontrol tanpa alasan jelas. Untuk mudahnya, akhirnya diterjemahkan saja sebagai amok.
Mengamuk memang warisan khas nenek-moyang kita. Dalam kamus elektronik Dictionary.com dijelaskan bahwa kata amok berasal perbuatan brutal menjurus ke pembunuhan yang dilakukan masyarakat Asia Tenggara, biasanya diawali oleh gejala depresi.
Kedudukan amuk dalam budaya kita memang istimewa. Bukan hanya itu, sejarah mencatat perubahan-perubahan penting di negara kita dipicu oleh amukan. Mari kita lihat beberapa contoh berikut:
Pertama, transisi Orde Lama ke Orde Baru. Banyak kejadian amuk-mengamuk disini. Samasekali bukan transisi yang damai. Dipicu oleh ngamuknya Cakrabirawa yang membunuhi jenderal-jenderal Angkatan Darat, disusul ngamuknya mahasiswa gara-gara Arief Rahman Hakim tewas tertembus pelor, akhirnya Jenderal Soeharto naik ke tampuk kekuasaan sambil menutup tirai rezim Soekarno.
Kedua, transisi Orde Baru ke Orde Reformasi. Ini pun bukan transisi damai. Diawali oleh ngamuknya rakyat akibat krisis ekonomi yang berakibat melangitnya harga barang, lalu disusul ngamuknya mahasiswa setelah beberapa rekannya tewas di tangan pihak berwajib, akhirnya Soeharto harus turun secara paksa-rela (bukan sukarela ya).
Ketiga, dibukanya pintu tol Semanggi yang macet. Bertahun-tahun pintu tol di sekitaran Jakarta menjadi mimpi ngeri bagi kaum pekerja urban yang setiap pagi berjuang menembus kemacetan pergi ke tempat kerja. Bertahun-tahun protes dan aduan disampaikan oleh masyarakat, pengelola jalan tol tetap membisu dan menuli sambil tangannya rajin mengutip bayaran tol. Tapi dua hari lalu…DUAR! Amukan seorang Dahlan Iskan sanggup mengubah karat menjadi besi mengkilap. Hari ini dilaporkan pintu tol yang biasanya macet terlihat bebas antrian.
Kalau di jaman Soeharto ada istilah SDSB (Sudomo Datang, Semua Beres). Sekarang bisa diganti DNSB (Dahlan Ngamuk, Semua Beres).
Ngamuk terbukti menjadi katalis proses perubahan penting di republik ini. Jangan harapkan transisi akan berjalan secara damai. Ngamuk adalah budaya kita, bagian tak terpisahkan dari nafas dan detak jantung kita. Tanpa ngamuk, tak mungkin republik ini akan merdeka. Tanpa ngamuk, mungkin Indonesia saat ini menjadi sahabat karib Korea Utara sebagai sesama negara komunis. Tanpa ngamuk, mungkin saat ini Soeharto masih duduk di kursi kepresidenan dengan senyumnya yang menawan.
Anda ingin perubahan? Suka atau tidak suka, tunggu sampai ada orang mengamuk.
Dahlan Iskan sekali lagi membuktikan bahwa ngamuk adalah satu-satunya kekuatan pendobrak di negara ini. Kita memerlukan pemimpin yang tahu seni mengamuk. Pemimpin yang cengeng, hobi curhat, mental dangdutan dan klemar-klemer tidak akan mampu membawa perubahan untuk republik ini.
13323004661768092029
Daripada ngamuk, mending nyanyi yok. Toh pesawatnya autopilot ini.
Asal tahu saja, kerbau tidak akan menurut kalau cuma diajak diskusi. Kerbau baru mau berjalan kalau punggungnya dicambuk. Silakan artikan sendiri perumpamaan ini.

Salam,

Bimo Tejo




0 comments:

Post a Comment