Kebanyakan pasien terdiagnosis mengidapnya ketika sudah mencapai stadium lanjut.
BARU-BARU ini Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mundur dari jabatan menteri kesehatan.Masalah kesehatan menjadi alasan utamanya. Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjenguknya di ruang perawatan RSCM Kencana, beberapa waktu lalu, ia menyatakan mundur agar bisa lebih fokus pada upaya pengobatan kanker paru yang tengah dideritanya.
Semenjak didiagnosis menderita kanker paru pada Oktober 2010, Endang terus menjalani terapi baik di dalam maupun di luar negeri seperti China. Pilihannya untuk fokus pada pengobatan mungkin sebuah langkah bijak dan tepat. Penanganan kanker paru memang membutuhkan terapi intensif.
Hal itu tidak lepas dari sifat kanker paru yang terbilang lebih sukar diobati daripada kanker jenis lainnya.
Di antara berbagai kanker, kanker paru terbilang paling ganas. Dokter spesialis paru RS Persahabatan yang juga Guru Besar FKUI bidang pulmonologi Anwar Jusuf menjelaskan soal itu.
Menurutnya, awal mula kanker terjadi ketika mutasi gen dalam sebuah sel menyebabkan sel itu menjadi ganas alias berubah menjadi sel kanker.
Proses itu terjadi melalui beragam jalur (pathway). Jalur-jalur pada kanker paru diketahui jauh lebih banyak dan variatif jika dibandingkan dengan kanker-kanker lainnya.
Jalur-jalur yang baru bahkan masih saja ditemukan melalui penelitianpenelitian terkini. Banyaknya variasi jalur itulah yang membuat kanker paru sulit diobati. “Tiap pathway kerap kali butuh obat berbeda. Kadang pasien sudah diberi obat A, ternyata pada kankernya ada pathway lain yang tidak mempan diobati dengan obat tersebut,” jelas Anwar.
Sulitnya pengobatan itu membuat kanker paru terbilang lebih mematikan. Data umum menunjukkan angka tahan hidup (kesintasan) lima tahun setelah pengobatan pada kanker paru paling kecil jika dibandingkan dengan kanker lainnya. Pasien kanker payudara, serviks, prostat, dan usus besar umumnya mempunyai angka tahan hidup lima tahun rata-rata lebih dari 75%, sedangkan pada kanker paru angkanya kurang dari 15%. Terlebih bila kanker paru baru terdiagnosis ketika sudah mencapai stadium lanjut, yakni stadium III atau IV.
Menurut Anwar, data di RS Persahabatan menunjukkan angka tahan hidup setahun setelah pengobatan pada pasien kanker paru stadium III hanya 30%-40%. Pada pasien stadium IV angkanya hanya 10%-20%.“Artinya, jika ada 100 pasien yang diobati, hanya 10-20 orang yang bisa bertahan hidup selama setahun atau lebih. Sisanya hanya bisa bertahan dalam hitungan bulan,“ tambahnya.
Stadium lanjut Sayangnya, pasien-pasien stadium lanjut itulah yang banyak ditemukan di Indonesia. Tidak adanya gejala spesifik pada stadium I dan II menjadi penyebabnya. Padahal, pada stadium awal itu sel-sel kanker masih terlokalisasi. Keberadaannya masih terbatas di organ paru sehingga pengobatan yang dilakukan pada stadium itu memberi harapan untuk sembuh. Selsel kankernya masih bisa diangkat melalui pembedahan.
Ketika kanker stadium awal itu tidak terdeteksi, sel-selnya akan menyebar. Melalui jalur kelenjar getah bening dan peredaran darah, sel-sel ganas itu menembus batas organ paru dan menginvasi organorgan lainnya. Umumnya, ada empat organ lain yang paling sering turut diserang, yakni otak, hati, tulang, dan kelenjar adrenal yang terletak di puncak ginjal.
Pada saat kanker mencapai stadium lanjut, gejala-gejala spesifi k baru muncul. Antara lain berupa batukbatuk seperti pada orang tuberkulosis, batuk berdarah, nyeri dada, atau nyeri badan. Pilihan terapi pada
stadium lanjut ialah kemoterapi dan radioterapi. Terapi paliatif diberikan pada penderita stadium IV dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup.Selain kemoterapi dan radioterapi, ada pula cryotherapy atau bedah beku. Terapi itu tergolong metode terapi lokal untuk kanker padat. Caranya dengan memasukkan elektrode ke massa tumor di paru kemudian energi pendinginan yang mencapai minus 150 derajat celsius dialirkan.
Energi itu membuat massa tumor mengecil, mengalami nekrosis atau lisis. Metode itu dilakukan sebagai alternatif bila modalitas lain seperti pembedahan, radioterapi, atau kombinasi dengan kemoterapi tidak memungkinkan. (H-1)
http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/02/ArticleHtmls/Sistem-Lawan-Arus-Berjalan-Lancar-02052012008015.shtml?Mode=1

0 comments:
Post a Comment