KRISIS UTANG - Akankah Ada Ucapan Selamat Tinggal kepada Yunani? PDF Print
Tuesday, 15 May 2012
Setelah zona euro memblokir pinjaman dana talangan (bailout) Yunani
sebesar 1 miliar euro dari 5,2 miliar euro Kamis (10/5) pekan
lalu,banyak pertanyaan yang muncul. Salah satunya,mengapa Uni Eropa (UE)
tidak membiarkan negara tersebut keluar dari blok mata uang tunggal?
Saat ini Yunani diibaratkan sebagai "negara sakit di Eropa",sedangkan
dari segi keanggotaan dalam zona euro, negara beribu kota Athena itu
merupakan wilayah peripheral yang menggantungkan pendapatannya kepada
sektor pertanian dan pariwisata. Kontribusi ke Eropa pun terbilang
biasa-biasa saja, hanya sekitar 5% dari output ekonomi kawasan Benua
Biru. Di tengah ketidakpastian atas masa depan politik Negeri
Dewa-dewa,para analis mempertanyakan,apakah Yunani memiliki kemauan dan
kemampuan untuk tetap berada di dalam zona euro atau sebaliknya.
Di parlemen, dua partai utama yakni Partai Demokrasi Baru dan PASOK yang
kalah dalam pemilihan umum (pemilu) akibat memberlakukan kebijakan
penghematan anggaran pekan lalu berjanji menerima ketentuan yang
dikeluarkan oleh Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (International
Monetary Fund/IMF). "Hasil pemilu tersebut kemungkinan membuat Uni Eropa
dan IMF menghentikan bailout untukYunani,"ujar ekonom UBS Bank Stephane Deo.
Menurutnya,jika pemberi pinjaman internasional benarbenar menghentikan
bailout, PemerintahYunani nantinya tidak akan mampu membayar gaji
karyawan dan uang pensiun sehingga menghasilkan ketegangan di pasar
keuangan. Tetapi jika Demokrasi Baru dan PASOK berkoalisi,kemungkinan
besar kedua partai tersebut mencoba untuk menegosiasikan kembali bailout.
Menanggapi hal itu,pengamatYunani memprediksi, tidak ada koalisi yang
stabil dan kemungkinan pemilu baru hanya menyisakan dana sebesar USD15
miliar dari langkah-langkah penghematan yang jatuh tempo. Gubernur Bank
Sentral Yunani George Provopoulos memperingatkan,kecuali Yunani tetap
tinggal di zona euro,masih ada kemungkinan muncul kemunduran teratur
seperti beberapa dekade lalu yang akhirnya dapat membuat Athena keluar
dari blok mata uang tunggal.
Mayoritas masyarakat Yunani sendiri menginginkan negaranya tetap berada
dalam zona Euro.Namun,kondisi tersebut bisa saja berubah karena kalangan
yang dulunya minoritas baru saja memilih partai yang menentang kebijakan
penghematan. "Pengetatan kebijakan penghematan dapat membuat situasi
lebih buruk,"ujar masyarakat minoritas Yunani dikutip CNN pekan lalu.
Sementara itu,analis IMF, Bank Sentral Eropa dan Komisi Eropa
memperkirakan, utang Yunani masih 129% dari produk domestik bruto (PDB)
pada 2020 dan kemungkinan dapat mencapai 160%. Akibatnya,Athena akan
membutuhkan dana pembiayaan selama dua tahun ke depan hingga USD175
miliar. Analis berpendapat,selama Yunani menggunakan euro sebagai mata
uangnya,negara tersebut tidak akan pernah menjadi kompetitif.
Sebuah penelitian yang dilakukan Goldman Sachs menyatakan, Yunani
membutuhkan penurunan nyata dalam nilai tukarnya sebesar 30% guna
mengembalikan daya saing. Situasi Yunani tersebut berbanding terbalik
dengan keadaan Islandia yang beberapa pekan pasca-krisis keuangan
2008.Negara tersebut memberlakukan devaluasi mata uangnya hingga 40%
sehingga perekonomiannya mulai tumbuh meskipun lambat.
Ekonom Amerika Serikat (AS) Kenneth Rogoff mengutarakan, Athena harus
diberikan cuti panjang dari zona euro,namun tetap berada di blok mata
uang tunggal.Hal ini untuk memperkenalkan kembali mata uang drachma
meskinilanya mungkin susut dibanding sebelum bergabung dengan zona
euro.Langkah ini bisa menjadi salah satu strategi untuk membuat industri
pariwisatanya kembali terkenal.
Senada dengan Rogoff, Kepala Organisasi Penelitian Jerman Ifo
Hans-Werner Sim mengutarakan,uang yang berada di Yunani agar tetap
berada di zona euro. "Drachma akan mengalami penurunan dan situasi akan
stabil dengan sangat cepat, setelah badai,matahari akan bersinar
kembali,"imbuh dia. Sementara beberapa pihak berpendapat,Pemerintah
Yunani memiliki sistem pajak yang hampir tidak bekerja serta meluasnya
korupsi. CHINDYA CITRA
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/494910/
--
"One Touch In BOX"
To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus
Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
[Koran-Digital] KRISIS UTANG - Akankah Ada Ucapan Selamat Tinggal kepada Yunani?
Info Post
0 comments:
Post a Comment