Breaking News
Loading...
Monday, 14 May 2012

Info Post

Kemenangan Francois Hollande kian mempertegas kebangkitan kelompokkelompok sosialis di Eropa yang menolak pengetatan anggaran (austerity plan).

“ErOpa mengawasi kita,“ungkap Presiden terpilih Prancis Francois Hol lande saat menyampaikan pidato kemenangan di hadapan ribuan pendukungnya di Bastille, Paris, Prancis, Minggu (6/5). “Negara-negara di Eropa kini lega. Pengetatan (anggaran) tidak lagi menjadi opsi,“ kata dia.

Hollande secara meyakinkan menumbangkan kandidat petahana Presiden Nicolas Sarkozy yang konservatif dengan perbandingan suara 51,6% dan 48,4%.
kemenangan itu sekaligus mengakhiri 17 tahun dominasi kepemimpinan sayap kanan di `Negeri anggur'.

kemenangan Hollande itu merupakan hukuman yang dijatuhkan rakyat Prancis yang tidak puas atas kebijakan Sarkozy dalam mengatasi persoalan ekonomi dengan melakukan pemangkasan.

Selama periode pertama kepemimpinan Sarkozy, total utang publik negeri itu mencapai 4,2 triliun euro atau 235% terhadap produk domestik bruto (PDB) yang besarnya 1,8 triliun euro. “Saya bangga telah memberikan harapan kembali kepada rakyat,“ kata Hollande.
kemenangan pemimpin Partai Sosialis Prancis itu bukan hanya menandai dimulainya perubahan rezim historis di Prancis.

kemenangan `tuan Normal', julukan Hollande, juga mempertegas kebangkitan kelompok-kelompok sosialis di Eropa yang menolak program pengetatan (austeri ty plan) dan tumbangnya rezim yang dipelopori Sarkozy bersama kanselir Jerman angela Merkel sebagai respons atas krisis ekonomi yang melanda Benua Biru itu.

kemenangan Hollande menjadi pendorong bagi partai-partai sosialis di Eropa sekaligus menjadi sinyal perubahan dan harapan. “kemenangan Francois Hollande sangat penting bagi seluruh sayap kiri Eropa,“ kata ketua Partai Sosialis Demokrat Ceko (CSSD) Bohuslav Sobotka, Minggu (6/5), seperti dikutip Prague Daily Mirror.

“Setelah keberhasilan sosialis di Denmark dan Slovakia, itu merupakan sinyal penting bagi perubahan dan harapan bagi semua pihak yang mengharapkan reaksi lebih adil dan dapat diterima bagi krisis utang,“ ujar Sobotka.
Partai kiri bangkit Seperti halnya di Prancis, rakyat yunani juga menolak partai-partai politik yang mendukung tanggung jawab fiskal dan berpaling kepada partai kiri radikal yang menentang habis program pengetatan itu dalam pemilu Minggu (6/5). Pemilih memberikan suara besar untuk partai-partai radikal kiri.

Untuk diketahui, yunani merupakan negara yang paling parah dilanda krisis ekonomi setelah utang negeri itu meledak dan 21,8% rakyatnya menjadi pengangguran. kondisi yang memburuk itu diperparah program pengetatan yang diajukan Uni Eropa/Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman. akibatnya kerusuhan meletus di negeri itu.

Gelombang peralihan pemilih juga melanda Jerman. Partai konservatif pendukung kanselir angela Merkel babak belur dalam pemilihan Minggu (13/5) di North Rhine-Westphalia (NRW), negara bagian yang populasi penduduknya lebih besar daripada Belanda dan ekonominya setara dengan turki. Pemilu itu digelar 18 bulan sebelum pemilu nasional yang akan menentukan nasib Merkel.

Menurut hasil proyeksi pertama, Partai Sosial Demokrat (SPD) yang berhaluan kiri tengah meraih 38,9% suara dan memiliki cukup dukungan untuk membentuk koalisi mayoritas yang stabil dengan Partai Hijau.

Sebaliknya, dukungan terhadap partai Merkel, Partai kristen Demokrat (CDU), anjlok menjadi hanya 26,3%. angka itu turun jika dibandingkan dengan 2010 yang hampir mencapai 35%. Hal tersebut merupakan hasil terburuk bagi partai itu sejak Perang Dunia II.

kekalahan itu merupakan sinyal bahaya bagi Merkel di tengah bangkitnya penolakan terhadap disiplin fiskal yang dipeloporinya di seluruh Eropa. “Ini tidak bagus bagi Merkel,“ ungkap Gero Neugebauer, pakar politik di Free University, Berlin. “SPD diperkuat oleh pemilu ini.“

Dampak politik kemenangan Hollande dan partaipartai sosialis lain di Eropa berdampak pada hubungan negara-negara tersebut dengan negara lain, terutama dengan amerika Serikat (aS).

Peta politik baru yang bakal dibawa Hollande di negerinya diperkirakan juga bakal mengubah hubungan dengan aS dan kanada. `tuan Normal' akan berusaha menjauhkan Eropa dari hubungan dagang dan militer trans-atlantik. Dia telah menjanjikan akan lebih memilih kerja sama lebih erat dengan seluruh Uni Eropa.

Dampak lain dari kemenangan Hol lande dan kubu sosialisnya ialah pe narikan pasukan dari Afghanistan bakal lebih cepat dan kesepakatan perdagangan bebas Uni EropaKanada yang diteken Sarkozy terancam batal.

Sinyal lain yang dibawa atas keme nangan mantan suami Segolene Royal, pemimpin Sosialis yang dikalahkan Sarkozy pada 2007, itu ialah berakhir nya kompromi canggung di antara para pemimpin Jerman, Prancis, dan ne garanegara lain. Dalam menghadapi krisis yang membekap zona euro, para pemimpin Eropa tersebut justru mendo rong pemangkasan utang dan pengetatan, alih­alih mendorong terjadi pertum­ buhan.

Dampak lain dari penolakan aus terity plan ialah kebangkitan partai­partai so sialis disertai dengan kebangkitan kelompok­kelompok nasionalis ultra ka­ nan dan radikal kiri. Kelompok tersebut dikenal sebagai kelompok yang mena­ warkan kebijakan ekonomi kolektif dan terpusat.

Di Inggris, misalnya, hasil survei me­ nunjukkan jika pemilu digelar pekan ini, Partai Buruh (Labour Party) akan menam­ pakkan per oleh an suara cukup signifikan.

Begitu pula dengan dukungan bagi Partai Nasionalis Inggris.

Bagi Eropa, kebangkitan kelompok sosialisme dan nasionalisme ini bisa
menjadi bencana di bidang ekonomi.
Euro terancam bakal bubar. Apalagi jika pembubaran euro itu dilakukan melakui kebijakan protektif dan diskriminatif. Di Prancis, misalnya, sosialisme yang dibawa Hollande bisa mendorong pengeluaran pemerintah dan nasionalisasi industri.

Publik Eropa kini tengah menanti apakah program pengetatan anggaran yang disuarakan Kanselir Jerman Ange la Merkel dan Perdana Menteri Inggris David Cameron bisa mengatasi krisis ekonomi yang mendera Eropa. Kalau ti dak, mereka juga bisa bernasib seperti Sarkozy, terpental dari kekuasaan. (Ber bagai sumber/I3)

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/05/15/ArticleHtmls/Tumbangnya-Rezim-Pengetatan-Anggaran-15052012022004.shtml?Mode=1

0 comments:

Post a Comment