Breaking News
Loading...
Sunday, 27 May 2012

Info Post
Amuk Kader Demokrat
Senin, 28 Mei 2012 00:01 WIB


PROSES hukum semakin nyata tidak mampu menyentuh orang-orang tertentu
karena pengaruh kekuasaan. Namun, publik memiliki logika dan cara
sendiri untuk melawannya dan menunjukkan orang-orang yang berkuasa itu
telah kehilangan kredibilitas.

Peristiwa yang dialami Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum
di Maluku Utara menjadi contoh betapa merosotnya kepercayaan publik
tidak bisa ditutup-tutupi.

Pekan lalu, Anas dan Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono
alias Ibas beserta rombongan DPP menjadi sasaran amuk massa di Bandara
Babullah, Ternate, Maluku Utara. Mereka datang ke Ternate untuk
mengikuti Musyawarah Daerah Partai Demokrat Maluku Utara.

Akibat insiden itu, Anas dan Ibas batal mengikuti acara dan meninggalkan
Ternate. Anas dan Ibas selamat, tetapi dua pengurus DPP menjadi korban
pemukulan oleh massa Demokrat Maluku Utara.

Sungguh ironis, seorang ketua umum dan sekjen partai besar menjadi
sasaran amuk dari kader mereka sendiri. Lazimnya, ketika pemimpin partai
besar datang ke daerah, ia akan disambut dengan rasa segan,
penghormatan, dan kebanggaan dari kader partai.

Yang terjadi atas Anas dan Ibas berkebalikan. Kehormatan, wibawa, dan
martabat mereka justru dilecehkan serendah-rendahnya oleh kader mereka
sendiri.

Penjelasan tentang peristiwa itu memang sudah diberikan DPP Partai
Demokrat. Intinya yang berulah di Bandara Babullah itu bukan kader
Demokrat, melainkan preman bayaran untuk menggagalkan Musyawarah Daerah
Demokrat Maluku Utara.

Namun, hal itu dibantah DPD Demokrat Maluku Utara. Mereka menegaskan
tidak ada massa bayaran atau preman dalam peristiwa itu. Yang ada
hanyalah pengurus DPD dan DPC Partai Demokrat Maluku Utara, beserta
kader serta simpatisan partai.

Tentu sah-sah saja bila Partai Demokrat menyatakan peristiwa di Maluku
Utara itu sebagai persoalan internal. Namun, terlalu menyederhanakan
persoalan bila menganggap insiden penyerangan itu tidak berhubungan
dengan merosotnya kredibilitas Anas Urbaningrum.

Dalam beberapa kali persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Anas
terus disebut-sebut terlibat dalam kasus dugaan korupsi Wisma Atlet dan
Hambalang. Namun, ia tetap tidak tersentuh. Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) seperti enggan membuktikan keterlibatan Anas dalam kasus-kasus itu.

KPK bahkan belum menjadwalkan pemeriksaan Anas meskipun telah
berkali-kali berjanji melakukannya. Sebagian kalangan internal partai
pun telah mendesak agar Anas mengundurkan diri terkait dengan kasus
korupsi yang didakwakan kepada Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara
Umum DPP Partai Demokrat. Namun, Anas bergeming.

Insiden di Maluku Utara menguatkan seruan internal Demokrat bahwa
desakan itu sangat serius. Insiden Maluku Utara juga mengirimkan pesan
bahwa meskipun hukum belum mampu menjerat Anas, publik sudah mulai
memberikan vonis mereka sendiri.

KPK tidak boleh memandang insiden itu semata sebagai peristiwa biasa.
Yudhoyono bahkan dalam kapasitasnya sebagai presiden dan sebagai
pemimpin Partai Demokrat seharusnya sensitif melihat publik telah
mengambil langkah sendiri dalam menghakimi orang yang dipandang bersalah.

Apakah pesan itu 'nyambung' ke Yudhoyono, itulah pertanyaan yang makin
lama makin tak memerlukan jawaban.

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/28/322465/70/13/Amuk-Kader-Demokrat

--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

0 comments:

Post a Comment